Luhut: Investor AS Minat Biayai Proyek LRT Jabodebek

Luhut: Investor AS Minat Biayai Proyek LRT Jabodebek

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 04 Agu 2017 16:00 WIB
Luhut: Investor AS Minat Biayai Proyek LRT Jabodebek
Foto: Rengga Sencaya
Jakarta - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, perusahaan pembiayaan asal Amerika Serikat, BlackRock berminat untuk masuk dalam pembiayaan proyek kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek). Menurut dia, perusahaan pembiayaan asing tersebut berminat lantaran proyek LRT Jabodebek memiliki Internal Rate of Return (IRR) yang tinggi menyusul teknologi moving block yang digunakan dalam menjalankan operasional keretanya nanti.

"BlackRock saja, fund manager besar dunia, yang punya kapitalisasi sampai US$ 5,3 triliun, itu sudah ingin masuk di sini (proyek LRT Jobodebek). Jadi ingin juga mem-financing proyek ini karena dilihat proyek ini sangat bagus," kata Luhut saat ditemui di lokasi LRT rute Cibubur-Cawang, Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Adapun sejauh ini ada 5 bank yang akan mendanai pembiayaan proyek LRT Jabodebek, yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga dan BCA. BlackRock sendiri tengah mengkaji untuk masuk ke dalam porsi pembiayaan pinjaman yang kini menjadi 70% bagian dari investor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, PT KAI sebagai investor menggunakan ekuitasnya sebesar 30% yang didapat dari PMN, dan sisanya disokong oleh pinjaman perbankan sebesar 70%.

Hal ini membuat Luhut yakin bahwa pemerintah bisa mengurangi beban APBN untuk membiayai proyek LRT yang ke depan akan dibangun di kota-kota lainnya.

"Kalau ini bisa, maka berarti, kita akan lihat multiplier effect nya ini ke depan. Sehingga APBN kita yang hanya bisa membiayai infrastruktur 20% itu, bisa di-top-up oleh orang-orang yang datang dari luar. Jadi ke depan, kita melihat infrastruktur itu akan banyak didanai oleh private sector," ucapnya.

"Dengan dia lihat struktur financing yang sekarang, mereka sudah tidak ragu lagi bahwa pemerintah Indonesia itu sudah berubah cara menangani proyeknya. Sudah melihat detail, sehingga melihat cost efectiveness, dan proyek IRR nya. Kalau begitu kan orang-orang ingin taruh duitnya. Jadi ada sumber dana macam-macam," pungkasnya.

[Gambas:Video 20detik]

(eds/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads