Namun, karena sempat membuat Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Habiburokhman tersasar, jalan layang itu kini mendapat julukan 'Katrok'.
Nyatanya, kualitas infrastruktur ini tak se-'Katrok' julukannya. Kontraktor pelaksana pembangunan jalan layang itu, yakni PT Wijaya Karya, jelas mempersiapkan pekerjaan dengan sangat matang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, infrastruktur ini memiliki umur konstruksi yang panjang.
"Ini didesain usia konstruksinya lebih dari 100 tahun," tutur dia saat dihubungi detikFinance, Jumat (4/8/2017).
Ini, kata Arie, dimungkinkan karena proses pengerjaannya yang menggunakan kombinasi teknologi tinggi.
"Itu proses pembangunan dilakukan dengan sangat presisi. Bayangkan, bagaimana membangun jembatan dengan bentang sepanjang itu dengan bentuk yang melengkung," sebut dia.
Meski demikian, Arie mengimbau agar Pemerintah Provinsi DKI selaku pengelola infrastruktur ini memperhatikan perawatannya. Karena tanpa perawatan yang baik, infrastruktur yang canggih pun bisa rusak.
Arie pun sempat melontarkan apresiasinya terhadap pelaksana proyek tersebut. Pasalnya, dengan bentang tengah yang tidak menggunakan penyangga, lalu lintas di bawahnya tidak terganggu.
"Itu bagus sekali, karena proses pembangunannya bisa berjalan tanpa mengganggu lalu lintas di bawahnya," tandas dia. (dna/mkj)











































