"Dibanding dua tahun lalu mungkin sedikit melambat," ungkap Darmin, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/8/2017).
Alasannya, kata Darmin yaitu perlambatan ekonomi secara global yang kemudian berimbas kepada situasi nasional. Salah satunya harga komoditas yang anjlok, sehingga memukul ekspor Indonesia yang selama ini bergantung pada batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak masyarakat yang kemudian mengalami penurunan penghasilan akibat penurunan ekspor. Maka dari itu daya beli juga tidak bisa setinggi dulu, sekitar 2009 hingga 2012.
Kuartal I-2017 adalah titik terendah dari penurunan daya beli dengan realisasi pertumbuhan 4,94%. Periode sekarang kembali ada kenaikan meskipun tidak terlalu tinggi. Darmin tidak sepakat bila daya beli disebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Sedikit, tapi naik. Jadi jangan bilang melambat," kata Darmin.
Foto: Dok. BPS |
Darmin memaparkan, Lebaran memberikan efek positif terhadap ekonomi nasional. Akan tetapi aktivitas belanja lebih banyak dilakukan masyarakat pasca Lebaran. Sehingga dalam hitungan Badan Pusat Statistik (BPS), belanja masuk ke kuartal III-2017.
"Pas orang siap-siap mau lebaran di tahun ini, datanya dikumpulkan. Dia mau pulang kampung, dia mau ngapain, maka dia simpan dulu duitnya. Masa dia belanjakan pas dia mau pulang. Dia kan mau gaya juga di kampung," terangnya.
Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,01%, JK: Agak Stagnan |
Maka dari itu ada kenaikan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Analisa tersebut, kata Darmin, akan dijawab sempurna ketika penjualan ritel selama Juli 2017 diumumkan.
"Jadi supaya persoalan itu clear, melambat atau tidak, sebagian sudah tergambar dari data PDB," tandasnya.
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah |












































Foto: Dok. BPS
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah