Follow detikFinance
Selasa 08 Aug 2017, 18:44 WIB

Mentan Klaim Tekan Impor Jagung Bisa Hemat Devisa Rp 12 T

Wisma Putra - detikFinance
Mentan Klaim Tekan Impor Jagung Bisa Hemat Devisa Rp 12 T Foto: Enggran Eko Budianto
Bandung - Pemerintah mengurangi impor jagung untuk mendongkrak produksi petani. Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, langkah ini untuk menjaga keseimbangan dengan produksi petani.

"Kami ini sedang menjaga keseimbangan untuk jagung. Petani memang untung (akibat melonjaknya harga) yang penting kami memberi batas atas untuk memberikan kesempatan kepada konsumen," katanya kepada wartawan di Convention Hall, Telkom University, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/8/2017).

Menurut Amran, apa yang dilakukan Kementerian Pertanian memutuskan mengurangi impor jagung dari 3,5 juta ton pada 2015 menjadi 1,3 juta ton pada 2016. Sedangkan di Agustus biasanya impor jagung 2,5 juta ton, tapi Agustus ini tidak impor.

Dari upaya menekan impor ini, Amran mengklaim bisa menghemat devisa negara kurang lebih Rp 12 triliun.

"Menghemat devisa kurang lebih Rp 12 triliun, bagus enggak untuk negeri ini? Rp 12 triliun itu dulu dinikmati oleh petani negara lain, sekarang dinikmati oleh petani Indonesia," kata Amran.

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemdag) menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Jagung lokal sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg) dengan kadar air 15%. Sedangkan harga di tingkat pabrikan dipatok Rp 4.500.

"Dengan APBN kita tidak bisa memberikannya, kita harus cerdas mengeluarkan regulasi. Sekarang tidak impor, jadi beri kesempatan mereka untung," kata Amran.

Mengenai kekhawatiran minimnya persediaan di dalam negeri, tidak akan terjadi karena persediaan mencukupi di Perum Bulog. Sehingga apabila terjadi peningkatan harga di luar batas, maka akan langsung diintervensi.

"Tidak ada impor, setelah puluhan tahun impor. Bagus kan untuk negeri ini. Ini yang harus disadari tolong beri pemahaman bagimana petani sejahtera agar pedagang untung dan konsumen tersenyum," terang Amran.

Amran menambahkan, untuk mencapai kedaulatan pangan, diperlukan kebijakan, infrastruktur, hilirisasi dan supply chain, termasuk ekspor dan impornya. Sedangkan untuk meningkatkan produksi diperlukan benih yang baik.

"Untuk mencapai swasembada tidak ada pilihan kecuali sistem mekanisasi yakni teknologi. Kami bisa menekan biaya produksi 40%. Dulu biaya tanam bisa mencapai Rp 2 juta, sekarang traktor bisa menghemat jadi Rp 1 juta. Itulah maksud kita mekanisasi besar-besaran," pungkas Amran. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed