"Tanpa aset produktif yang memadai, masyarakat ekonomi terbawah tidak dapat keluar dari kemiskinan, serta tidak dapat meningkatkan pendapatannya. Kepemilikan aset dapat menjadi salah satu faktor penentu untuk mengurangi ketimpangan," kata Bambang di acara Indonesia Development Forum (IDF) di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (9/8/2017).
"Lebih jauh lagi, tanpa aset yang memadai, keluarga rentan tidak dapat berinvestasi yang cukup untuk masa depan anak-anak mereka. Hal demikian akan berulang terus menerus dalam satu siklus dan menjadi lingkaran setan," lanjut mantan Menteri Keuangan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menambahkan, gini rasio yang jadi indikator ketimpangan mulai turun pada 2014. Namun, itu karena ditopang turunnya konsumsi, bukan kenaikan pendapatan.
"Saat ini tidak seperti negara Asia lainnya. Ketimpangan di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Namun di 2014 Indonesia dapat mulai menurunkan rasio gini. Rasio gini Maret 2017 menjadi 0,393 atau turun dari 0,408 pada 2015. Penurunan rasio gini ini terjadi karena adanya pengurangan proporsi konsumsi per kapita," ujar Bambang.
Selain ketimpangan pada penduduk, kesenjangan lainnya yakni pada Jawa dan luar Jawa.
"Pertumbuhan pengeluaran per kapita antar pulau, Jawa mendominasi Indonesia, hal ini cerminan dari dominasi Jawa dan proporsi kegiatan ekonomi di Indonesia," terang Bambang. (idr/hns)











































