Follow detikFinance
Rabu 09 Aug 2017, 19:45 WIB

Fenomena Pusat Belanja Tutup Juga Banyak di AS, Apa Sebabnya?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Fenomena Pusat Belanja Tutup Juga Banyak di AS, Apa Sebabnya? Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2017 ini tercatat tumbuh tipis sebesar 4,95%. Diduga daya beli masyarakat turun atau masyarakat kelas menengah menahan belanja. Dugaan lainnya, pola konsumsi masyarakat bergeser ke ekonomi digital sehingga banyak transaksi online yang tidak tercatat.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, berpendapat bahwa kemungkinan terjadi pergeseran, masyarakat kini lebih banyak berbelanja di toko online.

Fenomena tutupnya pusat belanja juga terjadi di negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS). Di AS, sekarang banyak gerai retail yang tutup, termasuk hypermart. Tapi itu bukan karena daya beli turun, melainkan karena masyarakatnya lebih suka belanja online. Kemungkinan di Indonesia juga begitu.

"Kebetulan bulan lalu saya mewakili pemerintah ke UN (United Nations). Saya ada di New York ternyata ceritanya sama, banyak retail rermasuk hypermart tutup. Yang namanya departement store jumlah outlet sudah berkurang drastis. Ternyata kalau di sana penyebabnya bukan daya beli masyarakat melemah. Tapi mereka cerdas, mereka tahu bahwa yang terjadi pergeseran yang masif dari belanja fisik jadi belanja online," kata Bambang saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Menurut Bambang, data konsumsi masyarakat harus dibuat lebih valid. Bisa jadi daya beli masyarakat tidak turun, hanya pola konsumsinya saja yang bergeser ke online. Ini perlu penelitian lebih lanjut. Cara BPS mengumpulkan data dan membuat statistik perlu disesuaikan agar transaksi online juga dapat dihitung.

"Di situlah tentunya kita harus benar-benar menyikapi. Mungkin ada penurunan daya beli, kita tidak bisa pungkiri kalau konsumsi turun. Pertanyaannya sekarang BPS sudah menangkap belum semua transaksi konsumsi yang terjadi? Dengan makin besar porsi onlie, tanpa menyalahkan online-nya, tapi kalau BPS masih pakai cara lama dan belum bisa masuk data ke digital tadi, saya khawatirnya belum semua transkasi tertangkap di data statistik," tutupnya. (mca/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed