Follow detikFinance
Jumat 11 Aug 2017, 19:10 WIB

Pusingnya Sri Mulyani, Beragam Ulah Orang RI Hindari Pajak

Hendra Kusuma - detikFinance
Pusingnya Sri Mulyani, Beragam Ulah Orang RI Hindari Pajak Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan pentingnya pajak untuk Indonesia kepada sekitar 127 ribu pelajar Indonesia mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Cerita itu dilakukan sebagai kuliah umum dalam acara Pajak Bertutur yang tujuannya memberikan edukasi pajak sedini mungkin kepada masyarakat Indonesia.

Sri mulyani mengatakan, setiap tahunnya penerimaan perpajakan selalu mengalami peningkatan, sejak 2014 yang sebesar Rp 1.146 triliun, dan pada 2017 meningkat menjadi Rp 1.472,7 triliun. Di mana asalnya dari sektor migas Rp 41,8 triliun dan non migas Rp 1.241,8 triliun, serta dari sektor kepabeaan dan cukai sebesar Rp 189,1 triliun.

"Ini adalah tugas para petugas yang setiap hari mengumpulkan pajak, setiap hari, kalau setahun 365 hari, maka kalian harus bagi setiap hari berapa penerimaan pajak, kalau kalian lihat itu pajak tidak pakai seragam, kalau lihat bea cukai pakai seragam dan teringat kalau dia harus kumpulkan Rp 189,1 triliun, plus mengamankan perbatasan kita dari penyelundupan 1 ton sabu, narkoba, kemarin 2000 pil ekstasi," kata Sri Mulyani di Kantor Ditjen Pajak Pusat, Jakarta, Jumat (10/8/2017).


Sri Mulyani cukup pusing karena pengumpulan penerimaan perpajakan bukan suatu yang mudah, apalagi di saat masyarakat di suatu negara belum memiliki kesadaran pajak yang tinggi.

Dalam setiap tugas mengumpulkan penerimaan pajak, yang paling mudah adalah mengumpulkan penerimaan dari gaji, di mana cukup dengan sistem yang memotong pajak.

Apalagi, petugas pajak harus menghadapi tindakan penghindaran dari setiap wajib pajak, terutama perusahaan yang selama ini beroperasi di Indonesia namun tidak memiliki kantor di Indonesia.

"Menghindari pajak dengan teknik macam-macam, operasi di sini tapi enggak punya kantor di sini, sehingga mereka mengatakan bukan wajib pajak di sini, lho orang jualannya di sini, di situlah letaknya tantangan pengumpulan pajak," tambah dia.


Penghindaran pajak juga masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia sendiri, seperti seorang pekerja meski gajinya telah dipotong pajak, namun memiliki penghasilan dari aktivitas berdagang dan tidak dilaporkan sehingga kewajiban pajaknya tidak dibayarkan.

"Atau kalau dokter kena pajak saat gaji dari rumah sakit, sedangkan di rumahnya tidak, ada yang bilang 'ibu tega banget kenapa dikenakan kan kasian dia nolong orang sakit', iya kasian tapi bayar pajak tetap bayar pajak saja," tegas dia.

Lanjut Sri Mulyani, pajak itu menjadi salah satu instrumen pembangunan negara yang nantinya bisa memberikan manfaat bagi warganya. Dari penerimaan pajak, bisa membangun infrastruktur seperti air bersih, sanitasi, hingga jalan tol dan lainnya.

"Jadi saya katakan kenapa harus bayar pajak, karena tadi motivasinya negara ini merdeka, tidak ada satu negarapun kaya miskin tidak bayar pajak," tutup dia. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed