Jurus Sri Mulyani Lepaskan Jerat Rentenir dari Masyarakat Miskin

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 14 Agu 2017 11:15 WIB
Foto: Hendra Kusuma
Bogor - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pagi ini melakukan kunjungan kerja ke Desa Pasir Angin, Megamendung, Kabupaten Bogor, dalam rangka implementasikan program sinergi Kementerian dalam mengangkat ekonomi rakyat melalui inklusi keuangan.

Tiba di lokasi pada pukul 09.00 WIB, Sri Mulyani didampingi oleh Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Sekjen Kemenkeu Hadiyanto, Dirjen Perbendaharaan Marwanto, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Bupati Kabupaten Bogor Nurhayanti, dan beberapa pejabat lainnya.

Sri Mulyani mengatakan, program kredit ultra mikro ini diharapkan mampu menghindari kebiasaan pelaku usaha yang sulit terakses dengan lembaga keuangan.

"Terima kasih Ibu Bupati yang bilang kalau pemerintah daerah akan mendampingi, dan seluruh penyalur juga, di seluruh Indonesia itu ada 64 juta pelaku kecil, oleh karena itu kita coba masuk dengan meluncurkan program yang bisa masuk, dengan kerjasama bersama kementerian lain, PIP sebagai koordinasi pendanaan, dengan pilot ini bisa meluncur," kata Sri Mulyani di Boror, Senin (14/8/2017).

Sri Mulyani mengakui, 64 juta pelaku usaha kecil menengah (UKM) merupakan pelaku usaha yang sulit terakses oleh lembaga pembiayaan lantaran sulit memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Sulitnya mendapat akses lembaga pembiayaan juga membuat kebanyakan pelaku usaha ultra mikro ini mengambil jalan pintas dengan meminjam uang ke para rentenir.

"Kalau ibu-ibu duduk ada yang nawarin, itu biasa disebut Bank Emok (rentenir), itu memang mudah, tapi sesudah itu diminta lagi dengan pengembaliannya lebih tinggi dan cepat," jelas dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani.Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Hendra Kusuma

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, program kredit ultra mikro menjadi salah satu jawaban bahwa pemerintah hadir untuk membantu masyarakat kelas bawah yang selama ini sulit mendapatkan akses pembiayaan.

"Ini kami yang kami tunggu-tunggu dan harapkan, karena OJK cukup lama upayakan untuk bisa akses ke masyarakat kecil, terutama di daerah yang tentunya masih sedikit mendapat sentuhan sektor keuangan, mulai dari edukasinya, pemahamannya, kalau di daerahkan bekerja, bekerja," kata Wimboh.

Selama ini, kata Wimboh, banyak masyarakat kecil di bawah ini lebih banyak menaruh uangnya hanya di kantong atau bawah bantal lantaran masih minimnya pengetahuan terkait dengan lembaga pembiayaan seperti perbankan.

Dengan adanya program kredit ultra mikro (UMI) ini diharapkan masyarakat khususnya pelaku usaha yang di kelompok bawah bisa terakses.

"Bu menteri ini program yang sudah lama, ada yang disebut dengan inlkusi keuangan, selama ini pinjam kemana? Jawabnya macam-macam, jadi untuk terutama selain edukasi, juga ada pendampingan, bapak ibu yang usaha kerajinan didampingi, nanti OJK yang berkewajiban kalau bapak ibu tidak puas karena tidak puas pinjam di bank, OJK akan membantu," tambah dia.

Sri Mulyani Salurkan Kredit Ultra MikroSri Mulyani Salurkan Kredit Ultra Mikro. Foto: Hendra Kusuma

Selanjutnya, Bupati Kabupaten Bogor Nurhayanti mengatakan, terdapat 710 ribu pelaku usaha UKM di mana sekitar 93% merupakan pelaku usaha mikro yang sulit mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga pembiayaan.

"Pelaku usaha yang 710 menyumbang terbesar PDRB, pelaku ini mengeluhkan pembiayaan, kemungkinan dengan melakukan pendampingan, soal pendanaan, ada KUR tapi persyaratan melalui perbankan ada syarat tertentu, sehingga kredit yang dikeluarkan itu macet pengembaliannya, jadi tadi melalui perbankan ada syarat yang sulit karena agunan yang diberikan," ungkap Nurhayanti.

Oleh karena itu, Nurhayanti berharap dengan adanya program kredit ultra mikro bisa menjadi solusi bagi pelaku usaha mendapat pembiayaan.

"Karena kalau di sini bank Emok (duduk) ketika setiap ibu-ibu duduk emok di datangi rentenir dengan syarat yang mudah tapi begitu bayar ini susah, semoga acara ini menjadi solusi," tukas dia. (mkj/mkj)