Follow detikFinance
Senin 14 Aug 2017, 13:47 WIB

Fahri Hamzah, BPS, BEI, dan BI Sepakat Daya Beli Masyarakat Tak Lesu

Danang Sugianto - detikFinance
Fahri Hamzah, BPS, BEI, dan BI Sepakat Daya Beli Masyarakat Tak Lesu Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Bergulir perbedaan pandangan dalam melihat kondisi perekonomian saat. Data-data makro pemerintah menunjukan ekonomi masih stabil, namun dari sisi para pengusaha khususnya ritel menjerit karena merasakan adanya pelemahan konsumsi masyarakat.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pagi ini menggelar diskusi Coffee Morning bertajuk Indonesia di Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Anjloknya Daya Beli. Acara diskusi tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Kementerian Koperasi dan UKM. Adapun yang menjadi pemimpin diskusi adalah Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Diskusi ini dimulai dengan pemaparan dari Kepala BPS Kecuk Suharyanto yang menjabarkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal II memang sama dengan kuartal sebelumnya sebesar 5,01%. Angka tersebut memang masih di bawah ekspektasi, sebab di kuartal II ada Lebaran yang biasanya konsumsi masyarakat meningkat.

"Kalau dilihat dari sisi produksi seluruh sektor tumbuh positif. Kecuali sektor administrasi pemerintahan dan pengadaan listrik dan gas," tutur Kecuk itu di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/8/2017).

Sementara untuk melihat daya beli turun atau tidak, kata Kecuk, harus dilihat bersamaan dengan konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga pada kuartal II masih tumbuh 4,95%, meskipun hanya naik sedikit dibanding kuartal sebelumnya 4,94%.

"Jadi saya akan bilang konsumsi rumah tangga masih kuat tapi terjadi perlambatan dibandingkan kuartal ke II 2016. Harapannya kemarin ada Lebaran dan puasa kita bisa mencapai 5% tapi 4,95%. Ini saya bilang masih kuat dan tidak ada indikasi penurunan daya beli," imbuhnya.

Menurut Kecuk memang ada sedikit perubahan pola berbelanja masyarakat dari konvensional menjadi online. Sebab konsumsi makanan khususnya di restoran masih naik, tapi untuk non food terkoreksi dari 4,87% menjadi 4,59%.

"Daya beli turun, ada perubahan dari offline ke online dan mungkin ada perubahan pola konsumsi," terangnya.

Hal itupun disepakati oleh Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar. Menurutnya ada perubahan gaya hidup khususnya di kaum milennial yang memilih untuk membeli makanan dan minuman secara online.

"Gaya hidup itu bersifat permanen semakin lama bergeser tanpa kita sadari. Secara pendapatan itu meningkat, inflasi sejauh ini rendah, yang rendahnya bukan cuma inflasi inti tapi juga volatile food banyak sekali terkait pengeluarannya dengan makanan ini terendah dalam 6 tahun terakhir. Sejauh ini dampak lanjutannya kecil jadi ada perilaku yang baik terhadap harga," terangnya.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio juga memiliki pandangan serupa. Menurutnya perkembangan teknologi sekarang semakin mempermudah masyarakat untuk membeli produk yang diinginkan dari rumah, baik itu makanan maupun produk non makanan. Salah satunya dengan perkembangan pelayanan dari ojek online.

Dia juga mencatat, para perusahaan ritel yang sahamnya di pasar modal juga masih mengantongi pertumbuhan profit. Kalaupun ada emiten yang labanya turun, namun itu secara konsolidasi.

"Saya yakin kok anak usahanya di ritel masih tumbuh. Pertanyaan mendasar lalu apa selanjutnya? Ritel Indonesia double digit growth sampai 2020," kata Tito.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pun mengaku berada di pihak yang sama. Menurutnya data melemahnya konsumsi masyarakat lantaran belum adanya sistem yang mampu membaca pergeseran gaya hidup masyarakat dalam berkonsumsi

"Isu perlambatan ekonomi karena ketidakakuratan kita membaca lifestyle. Ada yang bilang ini peralihan konsumsi manual ke digital," tuturnya.

Menurut Fahri, penurunan konsumsi masyarakat memang masih misterius. Sebab juga belum ada yang bisa membuktikan bahwa memang benar terjadi peralihan gaya konsumsi menjadi online. Oleh karena itu, Fahri berharap pemerintah bisa melacak lebih detil kondisi mikro ekonomi Indonesia. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed