Turut hadir pejabat eselon I Kementerian Keuangan, seperti Dirjen Anggaran Askolani, Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi, Dirjen Perbendaharaan Marwanto, Ditjen Kekayaan Negara Issa Rachmatarwata, Dirjen Perimbangan Keuangan Boediarso Teguh Widodo, Kepala BKF Suahasil Nazara, Dirjen PPR Robert Pakpahan, dan Staf Ahli Bidang Kepatuhan Pajak Suryo Utomo.
Hanya Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi dan Sekjen Kemenkeu Hadiyanto yang tidak hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan, untuk asumsi dasar makro ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi ditetapkan sebesar 5,4%, inflasi 3,5%, nilai tukar rupiah terhadap dolar (kurs) Rp 13.500 per US$, suku bunga SPN 3 bulan 5,3%, harga minyak dunia US$ 48 per barel, lifting minyak 800 ribu barel per hari, lifting gas 1,2 juta setara minyak.
"Pertumbuhan ekonomi 5,4% diketahui sebelumnya pembahasan dengan dewan disetujui 5,2%-5,6%, jadi 5,4% adalah titik seimbang antara optimisme dan kehati-hatian," kata dia.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di level 5,4%, kata Sri Mulyani masih mengandalkan konsumsi rumah tangga yang diprediksi tumbuh 5,1%, serta investasi di level 6,3%, dan ekspor 5,1%.
"Paling menonjol adalah PMTB itu investasi tumbuh di 6,3%, ekspor 5,1%, kalau dibandingkan APBN-P, ini asumsi penting mendasari kita assessment, dunia relatif stabil, sehingga kita bisa ekspor, IMF pertumbuhan ekonomi dunia tadinya sangat optimis akhirnya kurangi optimisme, itulah kenapa kita pakai 5,4%," jelas dia.
Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi |












































Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi