Follow detikFinance
Kamis 24 Aug 2017, 15:08 WIB

RI Bisa Tiru Timur Tengah Soal Wakaf

Hendra Kusuma - detikFinance
RI Bisa Tiru Timur Tengah Soal Wakaf Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Pemerintah Indonesia saat ini tengah mencari berbagai upaya dalam mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan. Salah satu yang dilakukan melalui keuangan syariah melalui zakat dan wakaf.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, pengumpulan dana zakat baru sekitar Rp 3,2 triliun dari potensinya yang mencapai Rp 217 triliun. Sedangkan wakaf sendiri masih sangat kecil dengan Rp 22 miliar.

Khusus untuk wakaf, kata Bambang, pemerintah bisa meniru apa yang sudah dilakukan negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara yang mengoptimalkan wakaf sebagai instrumen.

"Nah mereka itu sudah, artinya tanah wakaf nya dipakai untuk apa tadi ada Universitas ada rumah sakit ada pertokoan ya ada hotel dan ada beberapa tempat yang pastikan pemakaian asetnya tentunya harus syariah base, harus halal base," kata Bambang dalam acara 2nd Annual Islamic Finance Conferance (AIFC) 2017 di Yogyakarta, Kamis (24/8/2017).

RI Bisa Tiru Timur Tengah Maksimalkan Potensi Wakaf.RI Bisa Tiru Timur Tengah Maksimalkan Potensi Wakaf. Foto: Hendra Kusuma


Dengan memanfaatkan wakaf sebagai aset yang produktif, maka pengelolaannya mendapatkan hasil. Saat ini di Indonesia sendiri wakaf lebih banyak dimanfaatkan untuk membangun mesjid, makam keluarga.

"Supaya wakaf itu produktif jadi tanah itu menghasilkan sesuatu, kalau kita menjalankan rumah sakit, rumah sakit kan pasti ada kalau dikelola dengan baik kan ada surplusnya," tambah dia.

Dari dana tersebut, para pengusaha muslim di dalam negeri juga bisa terbantu dari sisi permodalan.

"Kita ini mendorong wirausaha atau wiraswasta muslim khususnya masih muda yang masih punya apa namanya semangat untuk melakukan bisnis, selama ini mereka susah modal," tambah dia.

Jika dari pengelolaan dana wakaf bisa memberikan modal usaha bagi pelaku usaha baru, maka ketika sudah memiliki akses keuangan akan berhubungan langsung dengan perbankan syariah. Sehingga, fokus perbankan syariah juga tidak lagi seperti bank-bank konvensional pada umumnya.

"Kalau sudah seperti ini demand-nya makin tinggi maka bank syariah ini tidak lagi ya mohon maaf seperti dulu bank syariah kasih pinjamnya ke komoditi ke sawit ya ada yang ke importir BBM dan segala macam ya akhirnya tidak lebih dari bank konvensional biasa kecuali di namanya ada Syariah," jelas dia.

"Kita enggak mau seperti itu kita ingin bank syariah ke depan dia organik bertumbuhnya tapi dengan menggunakan tadi potensi dari pengusaha muslim masa depan," sambung dia.

Oleh karena itu, Bambang mengungkapkan, kegiatan seperti ini harus didukung, terutama bagi Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). "Kita harus dorong manajemen wakaf yang hasilnya bisa untuk modal awal pengusaha yang akan menjadi nasabah utama dari bank syariah ke depan ya," tutup dia. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed