Jumlah ini otomatis akan membuat pendanaan dari perbankan dalam negeri akan berkurang. Adapun dana perbankan yang rencananya bakal dibutuhkan dalam pembiayaan pembangunan LRT Jabodebek mencapai Rp 18-19 triliun.
"Jadi dengan itu, penyertaan modal dari bank lokal akan turun. Itu akan mancing swasta untuk masuk. Jadi porsi bank lokal nanti jadi berkurang Rp 2 triliun itu," katanya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (28/8/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pembahasan mengenai LRT saat ini masih akan terus berlangsung. Masih ada peraturan-peraturan yang sedang disusun dalam pembangunannya karena ini adalah kereta ringan pertama yang bakal dibangun di tanah air selain LRT Palembang. Namun pembahasan tersebut hari ini harus ditunda lantaran ada kegiatan lain yang diikuti.
"Bahas masih detil-detil karena ini pertama kali bikin LRT. Jadi peraturan pendukungnya banyak yang belum ada. Jadi mesti dibuat supaya lancar. Karena ini akan jadi copy paste untuk LRT lainnya," jelas Luhut.
Seperti diketahui, total biaya yang dibutuhkan untuk membangun pra sarana LRT Jabodebek sebesar Rp 21,7 triliun ditambah sarana Rp 5 triliun sehingga total pendanaan LRT Jabodebek adalah Rp 26,7 triliun. PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) dalam hal ini bertindak sebagai investor.
Skema pendanaan proyek LRT Jabodebek saat ini meliputi, Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada KAI sebesar Rp 5,6 triliun tahun depan ditambah dengan PMN KAI tahun lalu sebesar Rp 2 triliun menjadi Rp 7,6 triliun. Sedangkan sisanya akan didapatkan melalui pinjaman dari bank. (eds/dna)











































