Daya Saing RI Kalah dari Vietnam, Ini Respons Mendag

Daya Saing RI Kalah dari Vietnam, Ini Respons Mendag

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 05 Sep 2017 11:48 WIB
Daya Saing RI Kalah dari Vietnam, Ini Respons Mendag
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Indonesia masih kalah saing dibanding Vietnam. Salah satu contohnya Vietnam lebih dulu menjalin perdagangan bebas dengan negara-negara lain di dunia.

Hasilnya, tarif bea masuk produk Vietnam ke negara mitra perdagangan hanya 0% sehingga bisa bersaing di Pasar. Sedangkan produk Indonesia harus menghadapi tarif bea masuk yang cukup tinggi sehingga sulit bersaing.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, menjelaskan pemerintah perlu hati-hati dalam kesepakatan perjanjian bebas dengan negara lain. Perlu banyak kesiapan, agar Indonesia dengan jumlah penduduk besar, tak hanya lebih banyak jadi pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Jumlah penduduk itu bisa dilihat sebagai beban, tapi juga sebagai aset, kita melihat ini sebagai aset. Negara lain melihat Indonesia sebagai potensi pasar, kita enggak mau melihat ini sebagai pasar saja," kata Enggar di Hotel Double Tree, Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Menurutnya, dalam setiap kesepakatan dengan negara lain seperti CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang meliputi kesepakatan perdagangan bebas dan investasi, pihaknya menekankan adanya peningkatan investasi ke dalam negeri.

"Jadi kita rangsang mereka investasi karena akan meningkatkan ekonomi kita, kalau mereka bikin industrinya di sini, pasarnya di sini dan sekitarnya. Kita enggak mau industrinya di tempat lain, kita jadi pasar, jadi kita sampaikan jumlah penduduk yang besar jadi potensi," ungkap Enggar.


Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Perkasa Roeslani, berujar lambatnya negosiasi perdagangan bebas dengan beberapa negara membuat pasar ekspor tergerus negara lain yang sudah lebih dulu mengantongi perjanjian perdagangan bebas. Mereka diuntungkan dengan bea masuk 0% untuk komoditas tertentu, di Turki salah satu contohnya.

"Perdagangan bebas memang perlu. Kemarin saya pulang dari Turki menemani Pak Presiden, ekspor kita itu tadinya US$ 350 juta tahun 2014, tahun 2015 tinggal US$ 60 juta, tahun lalu tinggal US$ 5 juta, kenapa? Rupanya mereka ambil semua dari Malaysia, karena Malaysia sudah ada FTA (free trade agreement) sejak tahun 2015, sehingga lebih kompetitif," tutur Rosan.

Menurutnya, pemerintah tak perlu terlalu cemas dengan adanya keterbukaan pasar, jika kesepakatan perdagangan bebas bisa dilakukan lebih hati-hati sehingga bisa saling menguntungkan.


"Kan free trade enggak semua kita buka, ada yang perlu kita pertahankan juga. Memang ketinggalan kayak dengan Vietnam yang sudah lebih dulu banyak melakukan perdagangan bebas, jadi barang-barang mereka tarifnya lebih kompetitif dibandingkan dengan kita," pungkas Rosan. (idr/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads