Follow detikFinance
Selasa 05 Sep 2017, 15:06 WIB

Kajian Kereta Kencang Jakarta-Surabaya Rampung Bulan Depan

Hendra Kusuma - detikFinance
Kajian Kereta Kencang Jakarta-Surabaya Rampung Bulan Depan Foto: Tri Ispranoto
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan dalam waktu dekat kajian atau feasibility study proyek kereta kencang Jakarta-Surabaya akan rampung dan dapat diajukan kepada pihak Jepang selaku investor.

Hal ini juga yang menjadi pembahasan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menerima Japan Global Exchange Forum yang dipimpin oleh Penasihat Khusus Perdana Menteri Japan, Hiroto Izumi di Istana Presiden, Jakarta Pusat.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, kajian dilakukan oleh BPPT dan JICA.

"Jadi kita sedang lakukan study bersama, study itu lah yang akan dijadikan rujukan atau dasar pelaksanaan. Satu hal yang memang menjadi catatan kita, kita memang punya preferensi satu di atas 160 km/jam," kata Budi Karya di Komplek Istana, Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Pemerintah, kata Budi Karya, telah menyiapkan beberapa alternatif pengembangan kereta api Jakarta-Surabaya. Membangun di jalur yang sudah ada atau eksisting atau membangun jalur baru.

"Nah itu yang sedang jadi pilihan, kita harapkan dalam satu bulan ini ketemu satu arahan-arahan tersebut, baru kita akan laksanakan. Kalau mendesak, ya karena kita kerja sama dengan JICA dan BPPT," jelas dia.

Pilihan pemerintah, Lanjut Budi, lebih kepada pembangunan di jalur baru yang mana pembebasan lahannya diharapkan lebih mudah karena disinyalir akan dibangun di pinggir jalan tol yang hampir dipastikan tidak ada lokasi hunian masyarakat.

"Yang lama ada okupansi, masalah sosialnya besar. Jadi kita memang punya preferensi bahwa tidak tentu tidak di jalur existing Jakarta-Surabaya," jelas dia.

Mengenai hasil studi yang tengah dilakukan diharapkan dalam satu bulan ke depan sudah dapat diselesaikan beserta penetapan alternatif pembangunannya.

Mantan direktur utama Angkasa Pura II ini memastikan, untuk kecepatan pemerintah mematok minimal kecepatan 160 km per jam atau masuk ke dalam kategori medium speed.

Dia menyebutkan, dengan kecepatan 160 km per jam maka operasional kereta api Jakarta-Surabaya bisa naik dua kali lipat dari yang ada saat ini. Sebelumnya, pihak Jepang mengusulkan untuk kecepatan berada di 120 km per jam.

"Oleh karenanya itu yang kita syaratkan, jadi tidak perlu high speed tapi di atas 160 km per jam," papar dia.

Sedangkan untuk teknologinya, lanjut Budi, masih bisa menggunakan kereta api bermesin diesel walaupun dengan kecepatan 160 km per jam. Budi memastikan, jika berbasis elektrifikasi akan menjadi lebih mahal.

"Tidak sampai 2 kali lipat, tapi kira-kira 50% lah. 50% lebih mahal, tapi itu pun lagi kita exercise mana yang lebih besar. Karena dari BPPT punya preferensi kalo bisa elektrik karena itu menimbulkan industri-industri yang jangka panjang," tukas dia. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed