Follow detikFinance
Kamis 07 Sep 2017, 18:32 WIB

Kementan Genjot Produksi Beras dan Jagung di Sulsel

Niken Widya Yunita - detikFinance
Kementan Genjot Produksi Beras dan Jagung di Sulsel Foto: Mentan Amran Sulaiman di Kabupaten Wajo (Dok. Kementan)
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menggenjot produksi beras dan jagung di Sulsel. Salah satu caranya dengan memberikan bantuan kepada petani agar produksi beras dan jagung di Sulsel meningkat.

Dalam rilis dari Kementan, Kamis (7/9/2017), bantuan yang diberikan salah satunya di Kabupaten Wajo, Sulsel meliputi traktor roda 2 sebanyak 80 unit, traktor roda 4 sebanyak 3 unit, pompa air 80 unit, transplanter (alat tanam) 13 unit, combine harvester besar dan kecil untuk adi 29 unit, corn harvester 2 unit, corn seller 10 unit, dan power threser multi guna 6 unit.

Setelah mendapatkan bantuan tersebut, produksi beras dan jagung meningkat. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersama Bupati Wajo Andi Burhanuddin melakukan panen raya padi di Desa Wele, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, hari ini. Produktivitas rata-rata padi di Wajo mencapai 7 ton per hektare (ha).

Hadir pada kegiatan ini, Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian (Kementan), Muhammad Syakir, Komisaris PT Pertani Mochamad Safri Sabit, Kapolres Wajo AKBP NT Nurohmad dan para pemuda tani yang tergabung dalam program Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Kementan.

Pada kesempatan ini, Andi Burhanuddin memberikan gelar kepada Amran Penyelamat Petani. Pasalnya, Pertanian daerah Wajo mendapat perhatian yang sangat tinggi dari Kementan berupa volume bantuan yang cukup banyak.

"Alhasil, produksi pangan khususnya padi meningkat, masyarakat Wajo pun kesejahteraanya naik. Karena itu, Amran kita beri gelar Penyelamat Petani," kata Burhanuddin.

Burhanuddin menjelaskan, di era Amran, lahan baku sawah di Kabupaten Wajo 99.720 ha tertanami semua. Implementasi program Upaya Khusus berupa bantuan benih, alat mesin pertanian serta pendampingan yang melibatkan TNI, berdampak positif pada pemanfaatan total lahan sawah tersebut.

"Tak hanya itu, Kementan juga memberikan bantuan program pengembangan cabai di tahun 2017 seluas 100 ha, masing-masing 50 ha untuk cabai besar dan cabai kecil. Untuk mendukung program ini, Pemerintah Wajo telah mencanangkan program Gerakan Tanam Cabai sehingga ketersediaan cabai terjamin dan harga stabil," imbuhnya.

Sementara itu, Amran menegaskan stok beras di tahun 2017 aman, bahkan jauh di atas kebutuhan nasional. Stok beras saat ini di gudang mencapai 1,7 juta ton, sedangkan kebutuhan beras sejahtera (rastra) sebesar 213 ribu/bulan. Artinya, kesediaan barang cukup hingga delapan bulan ke depan.

"Dengan besarnya kebutuhan ini, stok 1,7 juta ton mampu mencukupi kebutuhan sampai 8 bulan, katakan sampai April tahun 2018 karena nanti ada operasi pasar dan segala macam. Kemudian pada Februari ada panen raya, jadi produksi bertambah dan stok overlap," tegas Amran.

"Kemudian, ada tambahan. Sekarang serapan masih 10 ribu, tambahan 200 ribu. Anggap tambah tiga bulan dari April, berarti sampai Juni," imbuh dia.

Di tengah musim kering, lanjut Amran, kegiatan pengolahan, tanam dan panen tetap berjalan. Ini karena Kementan melakukan program percepatan tanam dengan memberikan bantuan ke daerah berupa pompa air dan alat mesin pertanian lainnya.

"Jadi walaupun musim kering, petani tetap olah lahan, tanam dan berproduksi, sehingga kesejahteraan petani tetap terjaga dan bahkan naik. Ini terlihat nilai tukar petani Agustus kemarin naik," paparnya.

Tercatat, berdasarkan data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2017 naik 0.94% menjadi 101,60 dibanding bulan sebelumnya, sementara NTUP Agustus 2017 sebesar 110,61 atau naik 0,78 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) naik sebesar 0,92 persen sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) turun sebesar 0,02 persen.

Tanam jagung 30 ribu ha

Petani muda Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Program Kementerian Pertanian yakni Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) telah menyiapkan lahan tidur sebanyak 30 ribu untuk ditanami jagung. Penanaman jagung akan dilakukan secara serentak pada September 2017 ini.

Demikian ungkap Koordinator Wilayah (Korwil) Gempita Sulawesi Selatan Asrul Herman di sela-sela kegiatan panen raya padi Mentan bersama Bupati Wajo, Andi Burhanuddin di Desa Wele, Kecamatan Belawa, Wajo, Kamis (7/9/2017).

Asrul menjelaskan, lahan jagung 30 ribu ha tersebut merupakan lahan tidur yang selama ini terlantar atau tidak dimanfaatkan sama sekali oleh petani maupun pemerintah daerah. Pemanfaatan lahan tidur merupakan salah satu terobosan petani muda melalui Gempita untuk mendukung target Kementan dalam mewujudkan swasembada jagung pada 2017.

"Gempita Sulawesi selatan telah membuka lahan jagung 30 ribu ha yang tersebar di semua kabupaten. Bulan September ini tanam serentak. Kementerian Pertanian memberitakan secara gratis bantuan bibit, pupuk dan alat mesin pertanian berupa traktor," jelas Asrul.

Ia menegaskan keberadaan Gempita sangar membantu petani dan pemerintah daerah untuk menyediakan jagung sesuai dengan kebutuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Selain itu, membantu petani dalam mendapatkan bantuan pemerintah yakni mulai dari pengajuan calon petani calon lahan yang diusulkan, pengawalan pendistribusian bantuan agar tepat sasaran dan waktu, serta membantu menyediakan pasar agar petani mendapatkan harga yang menguntungkan.

"Semua bantuan kami kawal sepenuhnya mulai pengajuan, pendistribusian, panen dan hingga pemasarannya. Karena itu, kami optimistis program gempita wujudkan swasembada jagung," tutur Asrul.

Oleh karena itu, Gempita akan bekerja keras melalui membangunkan lahan tidur untuk menghasilkan jagung yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan ekspor.

"Tak hanya penuhi kebutuhan pabrik di Sulawesi atau pun dalam negeri, kami optimistis bisa lakukan ekspor. Produksi jagung kami jamin meningkat," tandasnya. (nwy/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed