Direktur Operasi Jasa Marga, Subekti Syukur mengatakan, hal tersebut dipercaya dapat mendorong penggunaan uang elektronik secara tidak langsung kepada masyarakat.
"Program kita sudah jelas, bahwa kita tanggal 31 Oktober nanti harus sudah 100% cashless. Untuk Jasa Marga, kami sudah targetkan awal Oktober nanti sudah 90%," katanya dalam jumpa pers di kantor pusat Jasa Marga, Jakarta, Jumat (8/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jasa Marga membutuhkan penjualan kartu sekitar 101 ribu selama 15 hari untuk bisa mendapat target 100% itu. Jadi sekitar 1,5 juta kartu baru yang bisa dijual di lapangan," ungkapnya.
Ia mengaku, hal tersebut sekaligus mengantisipasi kebijakan 100% non tunai yang sempat dilakukan pada gerbang tol di Kebon Jeruk. Saat itu, jumlah kartu yang dijual di gerbang tol tersebut kurang dan akhirnya menimbulkan antrean panjang hingga berjam-jam.
"Kalau tidak masuk antrean, dia bisa kita usir kalau enggak bawa kartu. Tapi kalau di Kebon Jeruk ke arah Alam Sutera, dia masuk antrean. Celakanya lagi kartu di lapangan kurang. Dampaknya kita enggak siapkan uang kembalian, jadi malam itu chaos (semrawut). Agak malam baru bisa lagi. Itu karena uang kembalian enggak disiapkan, kartu habis, dan hampir 60% itu penginnya tunai," jelasnya.
"Mudah-mudahan 31 Oktober nanti bisa lancar. Makanya Jasa Marga membagi di masing-masing GT secara bertahap. Tapi kita tetap sediakan kondisi apbila kartu tidak siap dijual di lapangan," pungkasnya. (eds/dna)











































