Diketahui, asumsi dasar ekonomi yang telah tercatat dalam RAPBN 2018 untuk pertumbuhan ekonomi ditetapkan 5,4%, inflasi 3,5%, nilai tukar Rp 13.500/US$, suku bunga SPN 3 bulan 5,3%.
Dia menyebutkan, perekonomian Indonesia hingga semester I-2017 memberikan gambaran yang cukup baik dan bisa menjadi landasan melihat perekonomian di tahun depan. Khususnya pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,01% dan inflasi yang sebesar 2,53%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: DPR Cecar Sri Mulyani Soal Target RAPBN 2018 |
Sementara untuk nilai tukar rupiah, lanjut Sri Mulyani, pemerintah memastikan untuk 2017 tetap berada sesuai target yakni Rp 13.400 per US$ dan pada tahun depan sekitar Rp 13.500 per US$.
"Tapi untuk 2018 kami akan lihat nanti dinamikanya tidak hanya di dalam negeri tapi sebagai bagian dalam menentukan asumsi makro 2018," ungkap dia.
Dengan situasi di 2017, Sri Mulyani memastikan, pertumbuhan ekonomi tahun depan yang sebesar 5,4% masih bisa direalisasikan dengan optimalisasi berbagai sektor. Konsumsi rumah tangga tumbuh di level 5,1% dan investasi tumbuh 6,3%
Dia memastikan, tantangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4% juga masih ada, yang paling besar adalah untuk meningkatkan pertumbuhan kredit nasional sesuai target yang di atas 10%.
"Kami lihat tantangan paling besar pertama kredit growth bank untuk tumbuh cukup kuat untuk dapat 5,4%, dengan begitu maka kredit bank harus tumbuh lebih tinggi lagi, Rp 483 triliun kreditnya untuk capai growth-nya 5,4, dibanding situasi 2017 apabila bisa tumbuh 5,2% dia harus ekspansi kredit Rp 370 triliun," jelas dia.
Untuk SPN 3 bulan yang diusulkan turun dari target 5,3% di 2018. Sri Mulyani memastikan, pemerintah akan mengakomodasi usulan tersebut.
"SPN 3 bulan kalau lihat hanya kinerja 2017 4,9-5,05%. Maka kami bisa proyeksikan dengan lebih optimis bahwa SPN lebih rendah dengan mempertimbangkan perkembangan global, suku bunga SPN kami pahami untuk diturunkan tapi tidak terlalu besar," tukas dia.
(mkj/mkj)











































