Untuk rata-rata habisnya waktu 3,5 jam di kemacetan diperkirakan ada nilai ekonomi yang hilang dalam 1 tahun sebesar Rp 39 triliun. Sebab menurut perhitungan Bank Dunia, waktu yang terbuang tersebut bila digunakan untuk kegiatan produktif selama 2 tahun bisa menghasilkan pendapatan bagi kota hingga US$ 3 miliar atau setara Rp 39 triliun (kurs Rp 13.200).
Sementara menurut Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, ada dua dampak buruk akibat kemacetan parah di ibu kota. Pertama pemborosan bahan bakar dan kedua kecelakaan serta gangguan kesehatan akibat polusi udara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut perhitungan Danang, pemborosan yang terjadi di Jakarta akibat kemacetan sudah mencapai 3% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Jakarta. Sementara di kota-kota besar lainnya di dunia rata-rata hanya 1,5%.
"Jadi kalau misalnya peroduksi daerah Rp 100, itu pemborosannya Rp 3 karena transportasi. Kalau di seluruh dunia harusnya 1,5%, jadi ini sudah 2 kali lipatnya," tukasnya.
Permasalahan kemacetan ini, menurut Danang, harus segera dibenahi. Sebab jika tidak akan menurunkan daya tarik Jakarta di mata investor lantaran dianggap sebagai kota yang tidak produktif
"Pasti dampaknya ke produktivitas nasional, daya tarik investasi Jakarta turun. Orang dengar Jakarta paling macet, paling polusi ini kan menghambat investasi. Ada baiknya karena kota lain bisa berkembang, buruknya akan kehilangan daya tariknya dan investasi akan menurun," tandasnya. (wdl/wdl)











































