Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 15 Sep 2017 19:00 WIB

Benarkah Industri Ritel Lesu? Ini Kata Bos Hero

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Melemahnya daya beli masyarakat memberikan tekanan pada para perusahaan ritel. Bahkan ada yang berujung melakukan penutupan toko.

Presiden Direktur HERO, Stephane Deutsch mengatakan kondisi perekonomian saat ini kurang baik bagi industri ritel. Oleh karena itu dibutuhkan strategi yang tepat bagi para pelakunya.

"Kondisi masih menantang untuk bisnis ritel di Indonesia tapi kami tetap berencana untuk kembangkan bisnis kami," tuturnya di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (15/9/2017).


Manajemen Hero merasakan kondisi anomali sejak 2 tahun yang lalu. Pada 2015 mereka melakukan penutupan toko besar besaran sebanyak 74 gerai yang terdiri dari 39 Starmart, 22 Guardian, 10 Hero dan 3 Giant.

"Pada 2015 emang kondisi lagi berat dan kami rasionalisasi toko dan ada beberapa toko yang ditutup," tambahnya

Untuk tahun ini perseroan menegaskan tidak lagi melakukan penutupan besar-besaran. Namun menurutnya penutupan toko merupakan hal yang wajar bagi industri bisnis ritel.

"Mohon maaf jumlah toko yang ditutup enggak bisa berikan detailnya. Sebagai usaha ritel, wajar jika toko-toko mengalami penutupan misal masalah demografis atau persaingan. Tapi kita tidak ada rencana tutup toko besar-besaran tahun ini," tuturnya.


Perusahaan pengelola Hero, Giant, Guardian dan IKEA itu justru masih melakukan ekspansi tahun ini. Perseroan mendirikan dua Giant Ekstra di Manado yang telah dibuka pada Jumat, 24 Maret 2017 lalu, dan Gerai Giant Ekstra Sawojajar Malang yang telah dibuka pada 28 Juli 2017.

Pihaknya juga telah membuka 14 toko baru Guardian di Bali serta 1 Hero Supermarket di Bandung.

"Kita tetap akan ekspansi, buka toko baru. Walaupun sebenarnya masih menantang bisnis ritel di Indonesia, tapi kami terus berencana kembangkan bisnis kami," tuturnya.

Hingga semester I-2017 perseroan telah menghabiskan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 302 miliar. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 212 miliar.

(mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed