Follow detikFinance
Sabtu 16 Sep 2017, 20:45 WIB

Hasil Kerja Susi 2,5 Tahun Berantas Maling Ikan di Laut RI

Hendra Kusuma - detikFinance
Hasil Kerja Susi 2,5 Tahun Berantas Maling Ikan di Laut RI Foto: Istimewa
Kendari - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, gencar memberantas pencurian ikan di laut Indonesia. Ia juga sempat membentuk Satgas 115 untuk memperkuat upaya memberantas Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing.

Selain itu, ia membuat berbagai peraturan untuk melindungi wilayah laut Indonesia dari aksi pencurian ikan. Misalnya, aturan moratorium kapal eks asing, larangan bongkar muat di tengah laut atau transhipment, dan tentang disiplin para pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Lantas, apa saja hasil dari kerja keras tersebut? Stok ikan nasional kembali meningkat menjadi 12 juta ton dari sebelumnya 6,5 juta ton di 2014.

"Ini hasil jerih payah dan ketegasan kita mengatasi IUU Fishing tanpa basa basi," kata Susi saat di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sabtu (16/9/2017).

Pemerintah, kata Susi, juga berhasil meningkatkan tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia menjadi 43 kg per kapita per tahun dari yang sebelumnya hanya 36 kg per kapita per tahun.

"Konsumsi ikan Indonesia naik tertinggi sepanjang sejarah karena ikannya mudah di dapat, saya tidak tahu kenaikan di Kendari, NTN (Nilai Tukar Nelayan) naik sangat signifikan, NTN naik hampir 10% dari 104 menuju 110, NTUP juga naik, dari situ membaik," jelas Susi.

Tidak hanya itu, pemerintah juga mampu mengurangi impor ikan sebesar 70%.

"Ini menjawab untuk menjaga laut kita dari IUU Fishing, kita patut apresiasi persatuan dari aparat, bahwa pencurian ikan sudah tidak boleh lagi, dan betul-betul dilaksanakan tanpa kompromi," tutup dia.

Tekan barang selundupan

Selain memberantas maling ikan, upaya Susi menjaga laut Indonesia lewat Satgas 115 juga mampu menahan masuknya barang-barang selundupan. Contohnya, rokok, minuman keras, beras, paku, triplek dan termasuk senjata api.

"Bapak presiden seorang pemberani, dan penuh komitmen, dengan satgas ini menunjukan sangat serius, 2,5 tahun itu bukan hanya kapal curi ikan, tapi juga penyelundupan barang yang tidak semestinya masuk. Ini dibawa oleh kapal pencuri ikan. kita juga lihat pencurian ikan ini melibatkan organisasi multinasional, bukan cuma Indonesia," terang Susi.

Yang lebih parahnya lagi, lanjut Susi, para pelaku illegal fishing di Indonesia ini memanfaatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

"Yang lebih parah lagi BBM subsidi dipakai untuk curi ikan, jadi sudah lengkap kebaikan orang RI, maling dikasih minyak untuk curi ikan kita, makanya kita harus berhentikan, tidak boleh ada," tutup Susi. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed