"Sekarang consumer is the best PR always, kami mengerti dunia berubah, generasi baru lahir dan segera mempengaruhi pasar serta menguasai pasar," kata pria yang akrab disapa CT itu.
CT menyampaikan hal ini dalam acara 'ASEAN Public Relation Conference: Memperkuat Citra ASEAN di Mata Global' yang dilaksanakan di Trans Resort Bali, Jl Sunset Road, Badung, Bali, Jumat (22/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CT Bicara Soal Kondisi Pasar di Era Generasi Milenial. Foto: Prins David Saut |
"Karakter generasi baru ini berbeda dengan karakter generasi saya. Teknologi bukan hal penting bagi generasi saya, tapi teknologi segalanya bagi generasi milenial. Di masa depan, sangat mustahil untuk tidak menggunakan teknologi komunikasi untuk mendapatkan pasar," tambah CT.
Kemudian CT memberikan gambaran perusahaan seperti Yahoo! dan Blue Bird yang merasakan langsung dampak perubahan pasar karena generasi milenial mulai mempengaruhi. Sehingga, menurut CT, hal yang dulunya tidak mungkin menjadi mungkin oleh generasi milenial.
"5 Tahun lagi, generasi baru akan mempengaruhi pasar dan mereka akan menguasai kebiasaan konsumen. Hal ini saya sebut sebagai tantangan selanjutnya yakni revolusi industri 4.0. Perubahan ini mengarah pada winner takes all," ujar mantan Menko Perekonomian itu.
CT Bicara Soal Kondisi Pasar di Era Generasi Milenial. Foto: Prins David Saut |
Menurut CT, teknologi komunikasi membawa perubahan yang sebelumnya komunikasi satu arah atau komunikasi massa, kini menjadi komunikasi langsung. Komunikasi langsung berbasis teknologi tersebut akan membawa pasar langsung ke personal setiap konsumen.
"Kita akan tahu pasar dari konsumen kita, di mana dia tinggal, apa hobinya, apa yang mereka butuhkan dan kita akan tahu karena komunikasi langsung antar orang. Jadi komunikasi massa akan berkurang, ini tantangan dalam komunikasi yang akan digantikan teknologi," ucap CT.
Konferensi ini merangkum tentang bagaimana PR dan komunikasi dapat membantu ASEAN mendapatkan lebih banyak pengakuan di antara komunitas global dan negara-negara regional. Turut hadir dalam acara ini Presiden ASEAN Public Relations Network Prita Kemal Gani dan sejumlah tokoh komunikasi dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Prita Kemal Gani berharap setiap partisipan mendapatkan banyak manfaat dari acara ini. Ia juga berharap para peserta konferensi bisa menyerap ilmu para ahli atau pelaku bisnis multinasional yang hadir sebagai pembicara.
"Semoga jejaring yang hadir di sini semakin luas dan meningkat ke level global, dapat menyerap ilmu dari para pembicara yang ahli di bidang public relations. Bahkan dapat lebih mengenal dan memahami negara-negara ASEAN dan kendala apa yang terjadi di dalamnya kala menghadapi ASEAN Economy Community," ujar Prita di lokasi yang sama.
Konferensi ini membawa hingga 36 tokoh besar di seluruh wilayah, termasuk Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Australia. Pada hari pertama,Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara berbicara dari perspektif Indonesia tentang berkomunikasi di ranah publik untuk memperbaiki radikalisme digital. Turut hadir Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose di hari pertama, yang mewakili Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, membicarakan tentang cybercrime.
Partisipan ASEAN Public Relations Conference 2017 tidak hanya berasal dari professional, tetapi juga akademisi, mahasiswa dan berbagai anggota asosiasi public relations dari negara lain. Mereka berasal dari Sydney, Bangkok, Mumbai, Ho Chi Min, Kuala Lumpur, Manila, Singapore, Perth, Canberra, London, Jakarta, Bali, Batam dan berbagai kota di Indonesia lainnya. (vid/mkj)












































CT Bicara Soal Kondisi Pasar di Era Generasi Milenial. Foto: Prins David Saut
CT Bicara Soal Kondisi Pasar di Era Generasi Milenial. Foto: Prins David Saut