Follow detikFinance
Jumat 22 Sep 2017, 14:47 WIB

Turunkan Konsumsi Beras, Gerakan Makan Tanpa Nasi Dikenalkan

Niken Widya Yunita - detikFinance
Turunkan Konsumsi Beras, Gerakan Makan Tanpa Nasi Dikenalkan Foto: Gerakan Makan Tanpa Nasi Dikenalkan (Dok. Kementan)
Jakarta - Potensi pangan lokal yang berlimpah perlu dikenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pangan sumber karbohidrat. Gerakan tersebut dinamakan Gerakan Makan Tanpa Nasi (Gentanasi).

Dalam keterangan tertulis dari Kementan, Jumat (22/9/2017), Gentanasi dikenalkan di Sulawesi Utara (Sulut). Gerakan ini kerja sama Badan Ketahanan Pangan (BKP) dengan Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Keduanya menggelar kembali Gerakan Penganekaragaman Pangan melalui Gentanasi di Graha Bumi Beringin, Manado, hari ini.

Gentanasi bukan berarti tidak makan nasi sama sekali. Melainkan dalam satu minggu mengganti 1 kali waktu makan dalam sehari dengan pangan lokal selain nasi.

Untuk lebih membumikan Gentanasi pada masyarakat, dilakukan Penandatanganan kesepakatan (MoU) dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Sulawesi Utara. Hal ini menyasar penyediaan menu di hotel dan restoran yang mengoptimalkan bahan baku pangan lokal sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras dan terigu.

Acara ini untuk memperingati HUT ke-53 Sulawesi Utara. Acara digelar dengan Lomba Festival Pangan Non Beras dan Non Terigu yang diikuti ibu-ibu PKK.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Kementan, Tri Agustin Satriani, menyatakan upaya percepatan diversifikasi pangan sangat penting dilaksanakan. Hal ini mengingat pola konsumsi pangan penduduk Indonesia belum beragam dari jenis pangan dan keseimbangan gizinya.

"Upaya menurunkan konsumsi beras dan terigu harus diikuti dengan penyediaan pangan karbohidrat dari pangan lokal seperti sagu, singkong, ubi jalar, sukun, ganyong, pisang, dan sebagainya," kata Agung.

Menurutnya salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mengembangkan pola konsumsi beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

Menurut istri Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Rita Dondokambey Tamuntuan, kegiatan diharapkan dapat meningkatkan kreasi menu pangan lokal berbahan dasar selain beras dan terigu. Bahan dasar tersebut seperti pisang, ubi, jagung, dan sagu.

"Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya terhadap beras, tetapi menggantinya dengan kearifan lokal yang kita miliki. Untuk itu saya harapkan para ibu dapat mengkreasikan menu pangan lebih beragam dan bergizi" kata Rita.

Sedangkan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw, mengatakan Gerakan Tanpa Nasi merupakan program yang berdampak positif dalam mengurangi ketergantungan masyakat terhadap nasi.

"Melalui Gentanasi, ketergantungan masyarakat terhadap beras bisa dikurangi. Karena di Sulawesi Utara sumber pangan pokoknya berasal dari umbi-umbian. Untuk itu program ini harus terus digencarkan," katanya.

Salah satu kearifan lokal yang sedang dikembangkan adalah pisang Goroho. Pisang tersebut merupakan sumber makanan masyarakat Minahasa sejak zaman dahulu.

Selain itu, di Kepulauan Sangihe terdapat Sagu yang dibiarkan tumbuh tanpa perawatan dan perhatian. Sagu ternyata merupakan makanan lezat dengan kandungan gizi cukup tinggi dan dapat dijadikan sebagai makanan bergizi bagi masyarakat.

Sedangkan di Minahasa dan Minahasa Selatan terdapat pangan lokal jagung yang diolah menjadi beras milu (beras jagung) dan sinduka (tepung jagung). Kedua makanan ini banyak dikonsumsi masyarakat. (nwy/dnl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed