Follow detikFinance
Sabtu 23 Sep 2017, 19:50 WIB

Kirim Ahli ke Vietnam, RI Belajar Tingkatkan Produktivitas Kopi

Mustiana Lestari - detikFinance
Kirim Ahli ke Vietnam, RI Belajar Tingkatkan Produktivitas Kopi Foto: iStock
Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kini sedang gencar mengembangkan kopi guna meraih target nomor satu dunia. Oleh karena itu, beragam cara ditempuh Kementerian Pertanian, salah satunya mengirim utusan untuk belajar ke Vietnam.

"Langkah awal yang telah dilakukan, para ahli kopi ditugaskan ke Vietnam untuk mempelajari teknik meningkatkan produktivitas kopi," kata Amran dalam rilisnya, Sabtu (23/9/2017).

Selain itu, menggalakkan berbagai program pengembangan perbibitan kopi, peningkatan produktivitas, manajemen usahatani, pengolahan dan pemasaran. Mentan yakin Indonesia sangat berpotensi menjadi produsen kopi terbesar dunia.

"Optimis harus diraih, mengingat Indonesia negara tropis dengan wilayah pegunungan yang membentang dari ujung pulau Sumatera hingga ke Papua, potensial untuk kopi,"ungkapnya.

Amran mengungkapkan kopi khusus (specialty coffee) Indonesia sudah dikenal di Eropa dan Amerika dan menjadi tren dunia saat ini. Specialty coffee Indonesia antara lain kopi gayo, kopi mandailing, kopi lampung, kopi bajawa, kopi toraja, kopi lembah baliem.

"Saat ini ada 14 jenis kopi Indonesia yang sudah mendapat sertifikat Geographical Indications (GI) sehingga memiliki keunikan yang bisa menjadi nilai tambah perdagangan," jelassnya.

Amran berharap tahun depan kopi Indonesia menjadi nomor dua di dunia. Caranya dengan meningkatkan mutu dan produktivitas menjadi 1,0 ton/ha. Tahun berikutnya ditingkatkan lagi sehingga menjadi nomor satu dunia.

"Selanjutnya pada APBN-P 2017 dan APBN 2018 digenjot dengan peningkatan produkvitias, pengembangan 8.700 ha kawasan kopi, perbenihan 3 sampai 4 juta batang per tahun, pasca panen dan pemasarannya," terang Amran.

Sementara Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi, menambahkan Kementan menempuh berbagai strategi guna mendongkrak daya saing kopi Indonesia.

Pertama, meningkatkan sistem perbibitan, pupuk dan tata kelola air sehingga tahun depan produktivitas naik menjadi 1 ton/ha. Kedua, program replanting untuk mengganti tanaman kopi yang kurang produktif.

"Ketiga, memperluas luas areal tanam kopi jenis arabika yang bernilai ekonomi tinggi sehingga populasi kopi robusta dan arabika menjadi seimbang," kata dia.

Keempat, pengembangan kopi dengan jenis kopi khusus (specialty coffee) dari berbagai daerah di Indonesia yang bernilai tinggi.

Kelima, mengajak instansi terkait yaitu Kemenperin, Kemendag, BPOM bersama swasta, Asosiasi Pengusaha dan Petani Kopi Indonesia lebih intensif mempromosikan kopi Indonesia di dalam maupun ekspor luar negeri terutama ke Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang serta berupaya mengendalikan impor.

"Pengembangan kopi difokuskan pada 10 provinsi sentra yaitu Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Timur, Bengkulu, Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur dengan kontribusi 87 persen produksi nasional, serta 24 provinsi lainnya dengan share 13 persen," paparnya.

Suwandi mengatakan berdasarkan data BPS, produksi kopi tahun 2016 sebesar 21.773 ton senilai Rp 14,5 triliun telah dinikmati 1,9 juta rumah tangga petani kopi.

Ekspor kopi pada Januari-Agustus 2017 sebesar 335.027 ton atau naik 50 persen dibandingkan periode sama tahun 2016 sebesar 212.514 ton. Kopi turut memberikan kontribusi surplus neraca perdagangan USD 823 juta.

"Demikian pula sebaliknya, berdasarkan data BPS, impor kopi Januari-Agustus 2017 sebesar 8.776 ton atau turun 63 persen dibandingkan periode sama 2016 sebesar 23.550 ton. Data ekspor impor kopi ini menunjukkan pertanda meningkatnya kualitas dan daya saing produk kopi Indonesia di pasar dunia," pungkas Suwandi

Posisi kopi Indonesia saat ini berada peringkat empat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), luas areal kopi Brasil hampir 2 juta ha dengan produktivitas 1,4 ton/ha.

Sementara luas areal kopi di Vietnam 589 ribu ha dengan produktivitas 2,3 ton/ha dan Kolombia luas 795 ribu ha dengan produktivitas 0,9 ton/ha. Sedangkan kopi Indonesia seluas 1,23 juta ha di antaranya 1,19 juta ha milik perkebunan rakyat dengan produktivitas 0,6 ton/ha.

Mutu kopi Indonesia belum stabil, sehingga ekspor saat ini didominasi (99 persen) dalam bentuk kopi biji/berasan (coffee excluding roasted and decaffeinated) sedangkan negara lainya sudah mengekspor kopi olahan. (ega/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed