Target Produksi Minyak 2006 Terlalu Mudah Dicapai
Jumat, 20 Mei 2005 10:48 WIB
Jakarta - Target produksi minyak mentah Indonesia dalam RAPBN 2006 sebesar 1,075 juta barel, dinilai terlalu mudah dicapai pemerintah. Mestinya, targetnya jauh lebih tinggi lagi."Untuk 2006, sebaiknya sasaran produksi minyak mentah Indonesia minimal sama dengan tahun 2005 yakni 1,125 juta barel. Kalau cuma 1,075 juta barel, dengan ongkang-ongkang kaki akan mudah tercapai," kata pengamat perminyakan Kurtubi kepada detikcom, di Jakarta, Jumat (20/5/2005).Menurut Kurtubi, memang secara nyata, produksi minyak mentah Indonesia dari Januari-April 2005 ini hanya 1,07 juta barel, sehingga masih jauh dari target. "Tapi dengan dipatok produksi minyaknya 1,125 juta barel maka akan ada upaya keras dari pihak-pihak terkait untuk bisa memenuhi target tersebut. Jadi, justru bagus dampaknya ketika dipasang target yang lebih tinggi," ujarnya.Menyangkut asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2005 di pasang US$ 40-45 per barel, menurut Kurtubi cukup realistik. Sebab, dalam pengamatannya, pada tahun-tahun mendatang harga minyak dunia masih sulit untuk di bawah US$ 40 per barel. "Menurut saya sih, sebaiknya yang dipakai adalah batasan atas yakni pada US$ 45 per barel," kata Kurtubi.Kamis (19/5/2005), kemarin, Menkeu Jusuf Anwar saat Raker dengan Panitia Anggaran DPR RI, telah mengajukan sejumlah asumsi makro RAPBN 2006, antara lain harga minyak US$ 40-45 per barel, produksi minyak 1,075 barel per hari, PDB 5,5-6,5 persen, inflasi 4,5-6,5 persen, SBI 3 bulan 6,5 persen sampai 8,5 persen, kurs rupiah Rp 8.800-9.200 per dolar AS.APBN-P 2005Menyoroti asumsi harga minyak dalam APBN Perubahan 2005 yang masih dipasang pada US$ 35 per barel, Kurtubi menjelaskan, hal itu jelas tidak realistis. "Kalau saya melihat yang pas itu US$ 45 per barel. Kenapa? karena realisasi harga minyak dunia pada Januari-April saja sudah US$ 50 per barel, dan sampai Desember 2005 nanti tetap segitu," ujarnya.Menurut Kurtubi, dengan diubahnya asumsi harga minyak menjadi US$ 45 per barel, maka dipastikan pendapatan sektor migas juga akan meningkat. Namun, kenaikan asumsi itu juga akan diikuti oleh kenaikan subsidi yang mesti dibayarkan pemerintah."Tapi setidaknya akan memberikan pelajaran kepada rakyat, jika harga BBM tidak naik, maka di tengah harga minyak yang tinggi telah menyebabkan subsidi membengkak menjadi puluhan triliun," tandasnya.Sebelumnya, Komisi VII-DPR RI bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membuat kesepakatan bahwa harga minyak pada APBN-P akan dipasang pada harga US$ 40-45 per barel, sehingga subsidi membengkak menjadi sekitar Rp 59,7 triliun. Namun, kesepakatan ini masih akan diajukan ke Panitia Anggaran DPR RI untuk dibahas bersama Menteri Keuangan.
(san/)











































