Pemerintah dan Exxon Belum Sepakat Soal Angka di Blok Cepu
Jumat, 20 Mei 2005 18:30 WIB
Jakarta - Pemerintah mungkin akan memperpanjang kontrak pengelolaan minyak di Blok Cepu dengan Exxon. Namun, perundingan antara pemerintah dengan Exxon hingga batas akhir perundingan hari ini belum menyepakati soal angka-angkanya.Hal itu diungkapkan Tim Negosiasi Indonesia dalam jumpa persnya di Kantor Pertamina, Jalan Perwira Jakarta, Jumat (20/5/2005) sore.Juru bicara Tim Negosiasi Rizal Malarangeng menyatakan, pemerintah Indonesia dan Exxon sama-sama optimis perjanjian business to business antara Pertamina dan Exxon akan tercapai dalam waktu yang tak terlalu lama."Kita masih akan harus menyesuaikan angka-angka yang belum disepakati. Kami tidak dapat menyebutkan angka secara spesifik di sini," kata Rizal.Kondisi yang ada sekarang, di mana Indonesia menjadi net importer di OPEC, serta kenyataan harus menunggu lama jika harus menunggu kontrak baru lagi pada 2010, haruslah menjadi dasar dalam proses negosiasi."Kita tidak mungkin lagi harus menunggu sampai 2010. Karena dengan negosiasi baru paling tidak memerlukan waktu dua tiga tahun. Dan baru mungkin berproduksi pada 2012 atau 2013," katanya.Komisaris Utama Pertamina Martiono yang juga menjadi anggota Tim Negosiasi menyatakan, walaupun hingga kini belum ada kesepakatan, bukan berarti pemerintah akan menyerah sehingga akan menjual murah. "Sejak awal sudah ada parameternya. Pemerintah tidak akan jual murah. Kita buktikan saja nanti," katanya.Tim Negosiasi akan terus bekerja secara optimal supaya mendapatkan posisi yang menguntungkan. "Tim akan bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai titik yang optimal," katanya.Anggota Tim Negosiasi lainnya, Lin Che Wei, menyatakan, ada 11 variabel yang akan dibahas kembali oleh Tim Negosiasi setelah negosiasi awal ini belum mencapai kata sepakat pada akhir negosiasi hari ini. "Soal split, bonus atau yang lain-lainnya ada dalam 11 variabel itu. Pemerintah dan Exxon akan kembali ke meja perundingan untuk menyepakati semuanya termasuk angkanya," kata Lin Che Wei. Soal kunjungan Presiden SBY ke AS pada 24 Mei ini, kata Che Wei, tidak ada hubungannya dengan proses negosiasi yang dilakukan antara pemerintah dan Exxon.Pemerintah Indonesia dan ExxonMobil Indonesia (Exxon) membuka kembali negosiasi eksplorasi di Blok Cepu pada 20 April 2005 lalu. Bila negosiasi berjalan lancar, nilai investasi yang masuk diperkirakan mencapai US$ 2-2,6 miliar. Setidaknya ada empat alasan mengapa negosiasi dengan Exxon dibuka kembali. Pertama, Presiden SBY sudah memerintahkan untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin demi kepentingan nasional. Jadi ini bukan hanya sektoral, mengingat harga minyak terus meningkat, sementara produksi terus merosot.Alasan kedua, untuk meningkatkan investasi di Indonesia dalam rangka menggairahkan pembiayaan infrastruktur. Harus diyakinkan Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berusaha sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan.Ketiga, untuk memperbaiki kondisi fiskal negara. Pendapatan negara berasal dari sektor migas. Pada tahun 1970-an, setiap ada kenaikan harga minyak, Indonesia selalu mendapat windfall atau bonanza minyak. Sekarang harga minyak naik sehingga Indonesia tidak untung lagi.Keempat, rencana pemerintah membesarkan Pertamina. Pertamina harus dibuka potensinya dengan perjanjian Blok Cepu sehingga dapat berkembang menjadi salah satu perusahaan minyak besar dunia.Pemerintah Indonesia dalam negosiasi dengan Exxon diwakili oleh sebuah tim yang terdiri dari perwakilan Menko Perekonomian, Menteri ESDM, dan Meneg BUMN. Sementara dari Exxon akan dipimpin Presiden GM ExxonMobil Indonesia Ron Wilson, dan Vice President Exploration ExxonMobil Indonesia Budiono. Dalam negosiasi itu akan dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar, misalnya soal pembagian hasil produksi, pembagian komposisi atau equity dan bonus untuk Pertamina. Pertamina semula berencana tidak memperpanjang kontrak ExxonMobil di Blok Cepu yang akan berakhir pada tahun 2010. Pertamina berniat akan mengelola sendiri Blok Cepu tersebut karena jika dikelola sendiri akan memberikan keuntungan signifikan bagi badan usaha milik negara tersebut. Dirut Pertamina Widya Purnama bahkan sudah membatalkan perjanjian induk (head of agreement) yang telah dibuat direksi lama karena meminta pihak ExxonMobil membuat proposal baru untuk mendapatkan perpanjangan kontrak yang akan berakhir pada tahun 2010. Alasan Widya, proposal yang lama mengacu pada perhitungan minyak mentah dengan harga US$ 20 per barel. Sementara saat ini harga minyak akan bergerak di atas US$ 40 per barel.ExxonMobil memastikan pengembangan Blok Cepu di Jawa Tengah akan meningkatkan produksi minyak Indonesia sekitar 20 persen dengan produksi minyak 170.000 barrel per hari pada tahun 2008. Blok Cepu juga diharapkan memberikan penghasilan US$ 4 juta per hari kepada pemerintah, atau US$ 1,5 miliar per tahun, dengan asumsi harga minyak US$ 35 per barel.
(mar/)











































