Revaluasi Yuan Takkan Bantu AS

Alan Greenspan:

Revaluasi Yuan Takkan Bantu AS

- detikFinance
Sabtu, 21 Mei 2005 10:59 WIB
Jakarta - Perseteruan AS dan Cina soal revaluasi Yuan terus meruncing. Namun Gubernur Bank Sentral AS Alan Greenspan justru mengaku pesimis revaluasi Yuan akan membantu mengurangi defisit AS. "Langkah Cina untuk merevaluasi mata uangnya, tidak akan serta merta menurunkan defisit perdagangan secara keseluruhan," tegas Greenspan dalam sesi tanya jawab usai pidatonya dalam Economic Club di New York seperti dilansir AP, Sabtu (21/5/2005).Pernyataan Greenspan tersebut disampaikan seiring dengan memanasnya perseteruan Cina dan AS soal revaluasi mata uang Cina, Yuan. AS dalam beberapa kesempatan meminta Cina untuk merevaluasi mata uangnya, karena pematokan yang diterapkan Cina dinilai terlalu rendah, sehingga merugikan para eksportir AS. Menteri Keuangan AS, John Snow bahkan mengirim utusan khusus ke Cina untuk memaksa negara dengan penduduk terbesar di dunia itu bersedia mereformasi mata uangnya. Utusan yang ditunjuk adalah Olin Wethington yang ditugasi untuk menjalin hubungan langsung dengan Cina khusus untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan mata uang dan reformasi pasar uang. Cina sendiri sebenarnya sudah beberapa kali mengisyaratkan kesediaannya untuk merevaluasi mata uangnya. Namun karena kecaman yang keras dari AS menyebabkan Cina akhirnya angkat bicara dan meminta AS untuk tidak mengurusi masalah negara lain. Defisit perdagangan AS tercatat terus melambung hingga mencatat US$ 617 miliar pada tahun lalu. Dari angka itu sebanyak US$ 162 miliar adalah defisit perdagangan AS dengan Cina, yang merupakan angka terbesar untuk defisit pada satu negara. Menurut Greenspan, defisit perdagangan itu tidak akan serta merta turun karena perusahaan-perusahaan umumnya beralih ke negara lain seperti Thailand atau Malaysia untuk barang-barangnya, dibandingkan dari produsen AS. "Yang sangat penting atas apa yang akan kita dapati adalah kita mengimpor dari wilayah lain, namun kita mengimpor barang yang sama," ujar Greenspan. Greenspan menambahkan, pada suatu saat nanti Cina pasti akan membiarkan mata uangnya meningkat terhadap dolar AS karena sistem mata uangnya merepresentasikan meningkatnya ancaman, termasuk inflasi yang lebih tinggi terhadap ekonomi Cina. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads