Pengamat Ekonomi dari INDEF, Bhima Yudistira, menilai inflasi September 2017 adalah 0,03% atau 3,62% secara tahunan.
"Proyeksi inflasi bulan September secara bulanan diprediksi sebesar 0,03% atau 3,62% secara tahunan," kata Bhima, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (2/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Faktor pendorong inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku barang industri. Hal ini karena nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar AS. Padahal mayoritas industri kita bahan bakunya impor. Otomatis akan berpengaruh ke harga jual barang. Stabilitas kurs jadi hal yang perlu dicermati dalam pembentukan inflasi," jekas dia.
Ekonom dari PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, juga meramalkan inflasi di September 2017 adalah 0,03% atau sekitar 3,62% untuk inflasi tahunannya.
Menurut Josua, rendahnya inflasi September tahun ini karena deflasi untuk volatile food, seperti beberapa komoditas pangan yakni daging sapi, daging ayam, cabai merah biasa, bawang merah, dan gula pasir.
"Inflasi bulan September 2017 diperkirakan sebesar 0,03% MoM atau 3,62%YoY dari 3,82% YoY pada bulan sebelumnya," kata Josua.
Dengan begitu, Josua kembali memprediksi inflasi inti September tahun ini diperkirakan sebesar 2,89% YoY dari bulan sebelumnya 2,98% YoY.
Sementara Ekonom dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, memprediksi akan terjadi deflasi September 2017 sekitar 0,03%.
"Sama seperti bulan lalu, deflasi 0,03%," kata Samuel.
Dia berpendapat, salah satu penyebab deflasi kembali terjadi karena harga-harga makanan atau kebutuhan pokok cenderung mengalami penurunan. Seperti sayuran, cabai, bawang, daging, ayam dan telur.
Hal ini, lanjut Samuel, juga berkat keberhasilan pemerintah menjaga pasokan atau memenuhi kebutuhan makanan di masing-masing daerah di Indonesia.
"Iya pasokan cukup, sehingga untuk inflasi tahunannya menjadi sekitar 3,5%," tukas Samuel. (wdl/wdl)











































