KKP Kembangkan Budidaya Lele Hingga ke Perbatasan RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Senin, 02 Okt 2017 19:57 WIB
Foto: dok. KKP
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali mengenalkan program unggulan budidaya lele bioflok ke berbagai daerah. Jika sebelumnya Pemerintah berhasil mengembangkan lele bioflok untuk pemberdayaan umat di berbagai pondok pesantren di Indonesia, kali ini KKP menyasar daerah perbatasan sebagai objek pemberdayaan ekonomi.

Daerah perbatasan yang baru saja dikenalkan program budidaya lele dengan kolam terpal ini adalah Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah ini dekat dengan Atambua, yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, program ini diharapkan mampu mendorong pemerataan ekonomi, dan ketahanan pangan di kawasan-kawasan perbatasan.

Menurutnya, kawasan perbatasan sebenarnya memiliki sumberdaya alam yang tinggi. Namun minimnya informasi teknologi, menyebabkan nilai ekonomi SDA tersebut belum dapat dirasakan.

Oleh karenanya, Ia menegaskan pentingnya membangun daerah perbatasan melalui penciptaan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budidaya.

"Budidaya lele bioflok di Kabupaten Belu ini menjadi yang pertama di NTT. Ke depan diharapkan akan menjadi pemicu untuk diadopsi di daerah lain," kata Slamet dalam keterangan resminya seperti dikutip di Jakarta, Senin (2/10/2017).

Slamet mengungkapkan, bahwa pesan Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran menjadi pertimbangan utama bagaimana program-program prioritas perikanan budidaya ini bisa menyasar ke daerah-daerah perbatasan.

Di sisi lain, program lele bioflok diharapkan akan mampu mensuplai kebutuhan gizi masyarakat dari sumber protein ikan.

Kebutuhan gizi menjadi masalah yang kerap kali dihadapi masyarakat di daerah perbatasan, padahal ketercukupan gizi menjadi indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

"Jika dilihat masih ada ketimpangan IPM masyarakat di daerah perbatasan. Saya rasa program ini menjadi sangat strategis untuk meningkatkan IPM melalui pemenuhan gizi masyarakat, apalagi komoditas lele saat ini mulai digemari masyarakat luas. Bu Menteri (Susi Pudjiastuti) sangat konsen untuk mendorong masyarakat agar mulai gemar makan ikan," imbuhnya.

Bupati Belu, Willybrodus Lay mengaku senang inovasi teknologi budidaya lele bioflok kini bisa dikenalkan pada masyarakat perbatasan. Dia yakin, upaya ini akan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat.

Terlebih tingkat konsumsi ikan per kapita di NTT masih cukup rendah yaitu 29,8 kg/kapita/tahun, di bawah tingkat konsumsi ikan perkapita nasional sebesar 43,94 kg/kapita/tahun.

"Pengenalan teknologi lele bioflok sangat cocok dengan karakteristik daerah di Belu, di mana sumber air bisa diefisienkan, namun disisi lain produktivitas bisa ditingkatkan berkali lipat.

Kami akan dorong nantinya paling tidak dalam satu desa ada 5-10 unit kegiatan usaha sejenis. Saya yakin ini akan menggerakkan ekonomi lokal di Belu dan pastinya akan mendongkrak tingkat konsumsi ikan perkapita masyarakat Belu," tutur Willy.

Selain di Kabupaten Belu, KKP juga fokus mendorong budidaya lele sistem bioflok di daerah perbatasan lainnya. Antara lain di Kabupaten Entikong, Kabupaten Wamena, serta Kabupaten Sarmi. Program pengembangan lele bioflok saat ini menjadi salah satu program unggulan nasional dan mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. (eds/dna)