Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 5,1%

Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 5,1%

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 03 Okt 2017 12:59 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% tahun ini. Proyeksi yang tercatat dalam laporan terbaru yang bertajuk Indonesia Economic Quarterly (IEQ) untuk edisi Oktober 2017 itu berubah dari proyeksi sebelumnya 5,2%.

Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia Rodrigo A. Chavez menjabarkan, pihak juga melihat PDB riil Indonesia meningkat sebesar 5,0% yoy di triwulan ke II-2017. Pertumbuhan tersebut tidak berubah dari triwulan pertama kemarin.

"Tingkat pertumbuhan telah stabil sebesar sekitar 5% sejak triwulan ke I-2014, lebih rendah dari yang tercatat pada awal dekade ini. Walaupun tingkat pertumbuhan ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara besar yang pertumbuhannya paling cepat di dunia," tuturnya di Energy Building dalam acara Indonesia Economic Quarterly Closing The Gap di Energy Building, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan catatan tersebut, seperti pertumbuhan konsumsi swasta secara yang tidak terduga tetap sama.

Kendati begitu, Rodrigo mengatakan bahwa terdapat pertumbuhan lapangan kerja yang tinggi. Pada Februari tahun ini sebanyak 4 juta lapangan pekerjaan tercipta, lalu ada kenaikan gaji sebanyak dua digit.

"Lalu kepercayaan konsumen yang tinggi, menurunnya inflasi harga pangan, nilai Rupiah yang stabil, dan beralihnya periode Idul Fitri ke triwulan kedua tahun ini yang biasanya menyebabkan adanya lonjakan konsumsi," imbuhnya.

Sementara itu, konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi dari tahun sebelumnya. Sebagian mencerminkan base effect dari peningkatan belanja barang yang besar di triwulan kedua tahun lalu, ditambah dengan hari kerja yang lebih sedikit di triwulan kedua.

Rodrigo mengingatkan tidak adanya percepatan pertumbuhan menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Mengingat lingkungan eksternal dan momentum reformasi kebijakan domestik yang baik.

Melihat kondisi yang ada, pertumbuhan PDB riil tahun ini diperkirakan mencapai 5,1%. Tidak adanya peningkatan dalam pertumbuhan di triwulan kedua, terutama konsumsi sektor swata merupakan permasalahan yang memerlukan data dan analisis lebih lanjut.

Dari sisi kebijakan fiskal dan moneter, Bank Dunia melihat adanya upaya merespon momentum pertumbuhan dengan kebijakan yang menstimulasi perekonomian namun tetap berhati-hati (prudent).

"Revisi anggaran 2017 yang baru-baru ini disetujui oleh DPR menetapkan defisit fiskal yang lebih tinggi sebesar 2,9% dari PDB, naik dari 2,4% dalam APBN tahun 2017, terutama karena kenaikan pengeluaran, termasuk subsidi karena adanya penundaan penghapusan subsidi listrik," tambahnya.

Bagaimana dengan 2018?

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 masih sama, sebesar 5,3%. Rodrigo mengatakan, pihaknya melihat kondisi perekonomian global di tahun depan cukup mendukung dengan kondisi perekonomian domestik yang lebih kuat.

"Kuatnya perekonomian domestik juga disebabkan oleh reformasi perekonomian yang terus berlanjut dan secara bertahap mulai memberikan dampak," tuturnya.

Bank Dunia melihat konsumsi swasta diproyeksikan menguat seiring dengan kenaikan upah riil dan peningkatan lapangan kerja. Sementara investasi swasta akan mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga BI baru-baru ini yang akan berdampak pada penurunan biaya pinjaman, perbaikan iklim bisnis, dan peningkatan investasi publik di bidang infrastruktur.

Rodrigo mengatakan bahwa terdapat pertumbuhan lapangan kerja yang tinggi. Pada Februari tahun ini sebanyak 4 juta lapangan pekerjaan tercipta, lalu ada kenaikan gaji sebanyak dua digit.

"Sektor eksternal diharapkan dapat memberikan konstribusi positif mengingat perekonomian global semakin kuat. Walaupun kontribusi ini sebagian akan diimbangi oleh nilai tukar perdagangan (terms of trade) yang diproyeksikan menurun karena adanya penurunan harga batu bara," imbuhnya.

Sementara defisit neraca berjalan diperkirakan akan melebar dari 1,7% pada 2017 menjadi 1,8% pada 2018.

Sedangkan konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat pada 2018, namun defisit akan tetap terjaga karena peningkatan kinerja penerimaan terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan reformasi perpajakan. (mkj/mkj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads