Follow detikFinance
Rabu 04 Oct 2017, 11:38 WIB

Begini Caranya Agar UMKM Mudah Memulai Bisnis

Niken Widya Yunita - detikFinance
Begini Caranya Agar UMKM Mudah Memulai Bisnis Foto: Kemenkop UKM Dukung UMKM Cukup Daftar Online untuk Mulai Usaha (Dok. Kemenkop UKM)
Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung pelaku usaha mikro dan kecil cukup didaftarkan secara online sebelum memulai usaha. Namun demikian, terkait kewajiban pajak kedua pihak belum mengetahui apakah ada pengenaan pajak bagi pelaku usaha mikro yang telah mendaftarkan diri.

"Apakah para pelaku mikro dan kecil cukup didaftarkan saja? Usahanya ini dibebaskan dari pajak. Tentu perlu pemikiran dan pertimbangan lebih lanjut," ujar Sekretaris Kemenkop UKM Agus Muharram dalam keterangan tertulis dari Kemenkop UKM, Rabu (4/10/2017).

Agus mengatakan itu dalam acara Rakornas Kadin di hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (3/10/2017). Rakornas kali ini mengangkat tema 'Mendorong Digitalisasi UMKM, Industri Kreatif dan Start Up untuk Menciptakan Ekonomi Berkeadilan dalam Menghadapi Persaingan Global'.

Menurut Agus, jika usaha UMKM dibebaskan dari pajak, perlu pemikiran dan pertimbangan lebih lanjut. Pihaknya belum bertanya secara detail pada Ditjen Pajak bila didaftar melalui online terkena pajak atau tidak.

Sejumlah pembicara yang turut diundang antara lain Patrick Walujo Kepala Badan Start Up Technology Kadin, Waketum Kadin bidang Industri Kreatif Ariful Y Hidayat, Ketua Pokja Industri Kreatif dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid, Rudy Salahuddin selaku Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM, Kemenko Perekonomian, Waketum Kadin bidang UMKM dan Koperasi, dan moderator M Lutfi.

Agus menjelaskan rencana dari Presiden Jokowi bahwa pelaku usaha mikro dan kecil cukup didaftarkan saja tanpa harus mendapat izin usaha dengan maksud untuk memberikan kemudahan berusaha bagi pelaku usaha tetsebut. Sebab menurutnya, masalah perizinan usaha masih menjadi salah satu hal yang menghambat masuknya investasi.

"Pak Jokowi ingin para pelaku usaha mikro dan kecil itu tidak perlu izin, didaftarkan saja. Nanti secara online di tempat-tempat tertentu didaftar oleh pemerintah daerah setempat. Saking Pak Jokowi concern terhadap para pelaku usaha mikro dan kecil yang merupakan mayoritas di tanah air," kata Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM dan Koperasi M Lutfi juga mendukung rencana tersebut. Lutfi mengatakan anggota Kadin yang sebagian besar merupakan kelompok usaha mikro dan kecil ini harus cukup didaftar dan harus membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholders guna mengembangkan usahanya sehingga bisa cepat naik kelas.

"Bahwa Kadin akan menjadi penggerak persatuan bagi pencipta nilai tambah baru dan Kadin juga ingin berkontribusi, maka anggota Kadin juga membayar pajak. Oleh sebab itu, Kadin ada untuk Indonesia," tandas M Lutfi.

Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM, Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin menjelaskan tujuan pemerintah menerbitkan izin atau mendaftarkan para pelaku usaha mikro dan kecil agar memudahkan pembinaan. Pemerintah ingin ada database yang jelas dan akurat berapa jumlah UMKM yang akan dibina.

"Yang diperlukan pemerintah bagaimana mendata. Tidak perlu tahu asal data itu dari mana, karena itu kita minta bantuan dari pelaku usaha untuk bagaimana kita bangun data dan bina pelaku UMKM dari data yang kita miliki," jelas Rudy.

Pemerintah menargetkan agar usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil dan usaha kecil menjadi usaha menengah. Namun Rudy mengaku salah satu hambatannya adalah dengan diterbitkannya adalah UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang membagi wewenang pembinaan usaha mikro mikro yang jumlahnya mayoritas lebih dari 98 persen ada pada pemda kabupaten atau kota dan pemerintah provinsi untuk usaha kecil.

"Ini yang dapat menghambat kita melakukan pembinaan dan pendataan. Contohnya data yang saat ini sekitar 59 juta UMKM itu data hasil prediksi Data BPS yang belum ada by name by adress. Karena itu kita tidak begitu tahu bagaimana mau membina UKM membawa UKM naik kelas yang mana. Ini yang jadi perhatian pemerintah," ungkap dia.

Pembicara lain, Waketum bidang Industri Kreatif Kadin Ariful Hidayat mengatakan, peluang pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia masih sangat besar. Beberapa faktor pendukungnya, antara lain bonus demografi Indonesia dan gaya hidup digital yang terus mengalami peningkatan.

"Pertumbuhan belanja online di Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu, tak usah heran bila pemain asing pun sudah mulai masuk menggarap potensi e-Commerce di Indonesia," kata Ariful yang akrab disapa Erik.

Maka, Erik menegaskan hanya ada dua pilihan bagi pelaku UKM yang masih konvensional, yaitu berubah atau punah. Sehingga lanjut dia, pemanfaatan teknologi tidak bisa lagi dihindari.

"Sudah lazim sekarang ini kita berpromosi barang melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan sebagainya. Untuk delivery produk ke konsumen, saat ini tersedia aplikasi ojek online," ujar Erik.

Meski begitu, Erik juga mengakui bahwa masih ada permasalahan yang membelit industri kreatif di Indonesia. Seperti kualitas SDM, bahasa, sumber daya pendukung, kelembagaan, dan juga pembiayaan.

"Yang tak kalah mengherankan, para pelaku UKM industri kreatif di Indonesia hanya 16 persen yang berbadan hukum. Sedangkan 83 persen lainnya masih berbentuk informal," pungkas Erik. (nwy/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed