Pedagang Ngeluh Beras Medium Langka, Ini Respons Kementan

Pedagang Ngeluh Beras Medium Langka, Ini Respons Kementan

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 04 Okt 2017 12:42 WIB
Pedagang Ngeluh Beras Medium Langka, Ini Respons Kementan
Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta - Sejumlah pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, mengeluhkan pasokan beras kualitas medium yang seret sejak beberapa hari terakhir. Beras yang dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 9.450/kg ini langka di pasaran.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, berujar menurunnya pasokan beras medium terjadi karena saat ini tengah memasuki masa panen gadu. Hal ini berimbas pada kualitas beras yang dipanen yang lebih bagus, sehingga banyak dari gabah tersebut digiling jadi beras premium.

"Ini kan lagi panen gadu. Makanya kualitas berasnya bagus, sementara harga premium tinggi. Maka karena berasnya bagus, ada kesempatan ya diolah jadi beras premium, agar harganya premium," kata Agung ditemui di PIBC, Rabu (4/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panen musim gadu atau panen saat musim kemarau, diakuinya, menghasilkan beras dengan kualitas yang lebih baik, dengan pecahan (broken) yang lebih sedikit. Ketimbang menjualnya sebagai beras medium, pedagang lebib memilih untuk menghasilkan beras premium.

"Harganya gabah sekarang Rp 4.600/kg. Kalau bisa dapat lebih tinggi, diproses jadi premium. Kenapa? Karena ada hubungannya dengan broken rendah," terang Agung.

Kementan mengklaim beras medium masih cukup banyak tersedia di pasaran.Saat ini saja, pihaknya lewat Toko Tani Indonesia bisa menjual beras medium dengan harga Rp 8.000/kg.

"Ada beras murah yang harganya Rp 8.000/kg. Khusus, ini kita tunjukkan hari ini kita bisa jual beras dengan harga murah dan berkualitas," kata Agung ditemui di PIBC.

Agung mengklaim, harga beras medium yang dijualnya tersebut bisa lebih murah dari harga beras medium di PIBC, lantaran membelinya langsung dari kelompok tani dan langsung dilempar ke konsumen akhir.

"Kenapa bisa murah? Kami kerjasama dengan Gapoktan, beli langsung. Maka ada pemotongan rantai pasok, kita kemas langsung, harganya Rp 8.000/kg. Enggak usah ditanya untung berapa, ada selisih," ungkap Agung. (idr/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads