Follow detikFinance
Kamis 05 Oct 2017, 22:36 WIB

Laporan dari Malta

Di Universitas Malta, Susi Cerita Penenggelaman Kapal Maling Ikan

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Di Universitas Malta, Susi Cerita Penenggelaman Kapal Maling Ikan Foto: Angga Aliya/detikFinance
Malta - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, hadir dalam Ocean Youth Summit di Malta University di Valetta, ibu kota Malta. Dalam acara itu, Susi menjelaskan tentang kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan di laut Indonesia.

"Di negara saya banyak pencurian ikan, ada 10.000 kapal asing yang mencuri ikan setiap hari. Setelah pergantian pemimpin (presiden), saya ditunjuk jadi menteri, dan pemerintah baru ingin ada kebijakan yang lebih perhatikan laut," ujar Susi di Malta, Kamis (5/10/2017).

Susi menjelaskan, alasan kebijakan pemerintah Indonesia saat ini lebih memperhatikan laut karena 70% negaranya adalah laut, sama seperti dunia yang 70% dikuasai laut.


Selain itu, menurut Susi, konferensi-konferensi tentang laut, salah satunya Our Ocean di Malta, sebagai pengingat bagi setiap negara bahwa laut ini penting karena menyangkut ketahanan pangan, ekosistem, politik, ekonomi, dan perubahan iklim.

"Kami akhirnya punya kebijakan baru yaitu menenggelamkan kapal pencuri ikan. Kelihatannya aturan ini terlalu keras itu hal yang perlu dilakukan kalau ada 10.000 kapal yang mencuri ikan di wilayah negaramu," tutur Susi.


Menurut Susi, Presiden Indonesia, Joko Widodo, sangat mendukung upaya memerangi pencurian ikan. Di sisi lain, Susi meminta maaf kepada negara-negara tetangga, karena kalau ada kapal mereka yang mencuri ikan di laut Indonesia terpaksa harus dihancurkan, dan mereka mengerti.

"Saya tidak ingin Indonesia kelaparan, saya ingin Indonesia sukses. Makanya saya harus ekskusi kapal-kapal pencuri ikan. Negara lain setuju, tapi enggak tahu kalau di belakang diomongkan, yang penting hasilnya. Di negara kami stok ikan naik," kata Susi.

Susi juga menceritakan perjuangannya soal hak laut. Usulan Susi ini pertama kali disampaikan di Konferensi Kelautan yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bernama UN Ocean Conference di New York Juni lalu.

"Laut lepas itu kan seperti duty free zone, no mans land. Tidak boleh laut dilakukan semena-mena seperti itu. Laut harus diberikan hak," katanya.


Terakhir, Susi berpesan kepada para peserta yang hadir di acara Ocean Youth Summit.

"Kalian bisa bikin perubahan, masa depan mau seperti apa itu tergantung kalian, kesempatan itu ada. Saya tidak tahu apa kalian sudah dengar, saya bahkan tidak lulus SMA, tapi hidup itu tidak rumit. Buka mata lebar-lebar, buka pikiran, berusaha keras, dengarkan banyak hal, lihat banyak hal, rasakan banyak hal, kalian bisa bikin perubahan," pungkas Susi. (ang/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed