Ical: Asumsi Harga Minyak US$ 40-50/Barel Aman untuk APBN

Ical: Asumsi Harga Minyak US$ 40-50/Barel Aman untuk APBN

- detikFinance
Senin, 23 Mei 2005 18:38 WIB
Jakarta - Kondisi APBN 2005 dipastikan tetap aman meski asumsi harga minyak dipatok di kisaran 40-50 dolar AS/barel. Karena dengan asumsi baru tersebut defisit anggaran justru bisa ditekan di bawah target sebelumnya."Kalau asumsi harga minyak dipatok 40-50 dolar AS/barel justru akan ada surplus pendapatan migas," kata Staf Khusus Menko Perekonomian M Ikhsan di Gedung Depkeu, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (23/5/2005).Namun di atas angka asumsi tersebut (60 dolar AS/barel), lanjutnya, baru akan menambah defisit sekitar Rp 100 miliar.Ikhsan menilai terkait dengan harga minyak terjadi sesuatu yang non linier yakni defisit akan berkurang ketika harga minyak dipatok di kisaran 40-50 dolar AS/barel dibandingkan saat dipatok di 35 dolar AS/barel.Ikhsan juga menyebutkan proyeksi asumsi makro ekonomi tahun 2005, yakni pertumbuhan ekonomi 5,5-6 persen, nilai tukar rupiah Rp 8.900-Rp 9.200/dolar AS, inflasi 7-8 persen, SBI tiga bulan 7,5-8 persen dan harga minyak 40-50 dolar AS/barel.Ekonomi TerkiniTerkait perkembangan ekonomi, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie menyatakan, pertumbuhan ekonomi RI selama triwulan I 2005 dan triwulan IV 2004 sudah menunjukkan adanya peran investasi yang lebih signifikan meski konsumsi tetap memberikan andil.Dalam hal investasi, kata Ical, ada perkembangan yang menggembirakan seperti keputusan Suzuki Motor Corporation untuk menetapkan Indonesia sebagai pabrik induk pembuatan mobil APV yang akan diekspor ke seluruh dunia. Selain itu ada juga pembelian saham Sampoerna oleh Philips Morris yang mencapai triliunan rupiah.Investasi juga menunjukkan kenaikkan sejalan dengan adanya peningkatan konsumsi semen. Selain itu selama enam bulan pertama Kabinet Indonesia Bersatu, konsumsi listrik yang merupakan indikator penting aktivitas ekonomi meningkat tajam. Hal ini terlihat dari konsumsi listrik pada Februari 2005 yang tumbuh 12,1 persen. Angka ini yang mendekati angka sebelum krisis sebesar 14 persen. (umi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads