Follow detikFinance
Minggu 08 Oct 2017, 15:25 WIB

Bikin Heran, Perusahaan IT Kok Bisa Atur Tarif Taksi?

Danang Sugianto - detikFinance
Bikin Heran, Perusahaan IT Kok Bisa Atur Tarif Taksi? Foto: Tim Infografis/detikcom
Jakarta - Para perusahaan taksi konvensional meminta pemerintah belaku adil. Mereka memandang peta persaingan saat ini tak imbang lantaran tarif taksi online tak diatur.

Menurut Ketua Umum Organda DKI Jakarta, Safruan Sinungan, selama ini perusahaan taksi konvensional tidak bisa seenaknya menetapkan tarif. Pemerintah melalui Dinas Perhubungan dan Trasportasi setempat berdasarkan kesepatakan organisasi terkait yang menentukan batasan tarif atas dan bawah.

"Angkutan yang resmi itu kan mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Seperti UU 22 tahun 2009 dan peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2014, ditindak lanjuti teknisknya dengan peraturan menteri. Ada lagi Perda di level provinsi ditentukan kuota dan tarif. Kita (taksi konvensional) tidak bisa tentukan tarif tanpa ada persetujuan pemerintah," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Minggu (8/10/2017).

Sementara taksi online selama ini menentukan tarifnya sendiri. Dia juga memandang tidak seharusnya perusahaan penyedia aplikasi taksi online yang pada dasarnya bukan perusahaan angkutan umum menentukan tarinya sendiri.

"Organda sebut ini ilegal karena tidak berizin, dia tentukan tarif sendiri dan tarifnya enggak masuk akal dalam hitungan bisnis. Pertanyaannya apakah punya kewenangan perusahaan IT (taksi online) menentukan tarif, sementara UU jelas tarif ditentukan perusahaan angkutan umum setelah dapat persetujuan pemerintah," tegasnya.

Dengan ketimpangan tersebut membuat perusahaan-perusahaan taksi tak berdaya menghadapi gempuran taksi online. Alhasil kini banyak perusahaan taksi yang berguguran.

"Perusahaan taksi di Jakarta ada 32 perusahaan, sekarang yang beroperasi tinggal 4, itu Blue Bird, Express, Gamya, Taxiku. Kalau Sri Medali yang beroperasi cuma 5 armada enggak usah dihitunglah," tambahnya.

Dari jumlah armada juga berkurang. Express yang tadinya memiliki 12 ribu armada kini berkurang tinggal 9.600 armada. Itu pun termasuk dalam armada taksi Eagle dan Tiara yang termasuk dalam grup Express.

"Sementara Taxiku dari 2.500 sekatang tinggal kurang dari 100 yang beroperasi. Sebenarnya ini situasi yang paling sangat menyedihkan. Tapi ini sudah terprediksi dari 2014," tambah pria yang juga menjabat Direktur Independen Express Transindo Utama itu. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed