Menurut catatan Bank Dunia pada 2015 ada sekitar 6,5 juta pekerja migran dari negara-negara ASEAN berada di ketiga negara tersebut. Angka itu setara 96% dari jumlah perpindahan pekerja migran di ASEAN sekitar 6,77 juta orang.
"Thailand paling besar 55%, Malaysia 22% dan Singapura 19%," kata Ekonom Bank Dunia untuk Social Protection and Jobs Global Practice, Mauro Testaverde melalui video conference di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara lainnya yang porsinya juga 1% yakni Brunei Darussalam, Kamboja dan Vietnam. Sementara Laos, Filipina dan Myanmar porsinya di bawah 1%.
Mauro menambahkan, masih minimnya jumlah pekerja migran di beberapa negara di ASEAN termasuk Indonesia, lantaran prosedur migrasi yang masih bersifat membatasi. Terdapat pula hambatan lainnya seperti proses rekrutmen yang mahal dan panjang.
Selain itu, beberapa negara juga masih membatasi kuota jumlah pekerja asing yang diperbolehkan bekerja di suatu negara. Mauro juga memandang kebijakan ketenagakerjaan juga masih bersifat kaku dan membatasi pilihan pekerjaan.
"Di manapun para pekerja ingin bermigrasi di kawasan ASEAN, mereka menghadapi biaya mobilitas beberapa kali lipat dari upah rata-rata tahunan. Perbaikan dalam proses migrasi dapat meringankan biaya ini bagi calon migran dan membantu negara-negara tersebut untuk lebih baik menanggapi kebutuhan pasar tenaga kerja mereka," tukasnya. (mkj/mkj)











































