Follow detikFinance
Selasa 10 Oct 2017, 08:33 WIB

Jokowi Mau Reaktivasi Ribuan Km Rel Warisan Belanda, Progresnya?

Muhammad Idris - detikFinance
Jokowi Mau Reaktivasi Ribuan Km Rel Warisan Belanda, Progresnya? Foto: Pool
Jakarta - Pemerintah pimpinan Joko Widodo (Jokowi), melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), berencana mengaktifkan kembali (reaktivasi) sejumlah rel kereta api peninggalan Belanda di Pulau Jawa, Sumatera, dan Madura. Selama ini rel kereta peninggalan Belanda tak lagi berfungsi alias mati.

Dari total sekitar 6.500 kilometer (km) rel di era Hindia Belanda, ada sekitar 2.500 km yang berstatus mati, terbanyak di Jawa dan Madura yang panjang rel matinya 1.600 km. Bahkan beberapa rel besi saat ini cukup terbengkalai dan beberapa bagian sudah hilang.

Plt Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Umiyatun Hayati Tri Astuti, menegaskan program reaktivasi rel kereta api eks Belanda tetap berjalan, khususnya rel di daerah yang potensi ekonominya besar.

"Hampir semua lintasan yang ada, di mana itu diberikan manfaat ekonomi pada masyarakat itu akan kita reaktivasi. Dengan kereta api kita harapkan ada pembagian beban dari jalan ke kereta api," kata Umiyatun kepada detikFinance, pekan lalu.

Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan, rel-rel mati peninggalan Belanda yang dioperasikan kembali sampai 2019 yakni untuk Sumatera reaktivasi jalur Pariaman-Naras, Naras-Sungai Limau, Padangpanjang-Bukittinggi-Payakumbuh, Muarokalaban-Muaro, dan Tanjung Karang-Pelabuhan Panjang.

Sementara untuk Pulau Jawa, rel kereta mati yang ditargetkan aktif kembali sampai 2019 antara lain Cilegon-Anyer Kidul, Rangkasbitung-Labuan-Suketi, Rancaekek-Tanjungsari, Cirebon-Kadipaten, Pangandaran-Cijulang, Wonosobo-Purwokerto, Kedungjati-Tuntang, Semarang Tawang-Tanjung Emas, dan Yogyakarta-Magelang.

Sementara beberapa ruas rel mati lain yang diaktivasi di Jawa lainnya yakni Jombang-Bebet-Tuban, Kalisat-Panarukan, dan aktivasi rel trem Wonokromo-Kalimas di Surabaya.

Namun dari beberapa program reaktivasi rel kereta api tersebut, lantaran keterbatasan anggaran, baru sebagian yang berjalan di lapangan seperti ruas jalur KA Bandung-Cianjur, reaktivasi rel ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Binjai-Besitang di Sumatera Utara, Naras-Sungai Limau serta Muaro-Muaro Kalaban di Sumatera Barat.

Ada pula satu reaktivasi jalur rel bersejarah Semarang-Ambarawa. Namun demikian, rel peninggalan perusahaan transportasi, Hindia Belanda Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) itu belum dilanjutkan lagi pengerjaannya lantaran ditemukan ada masalah ketidakstabilan tanah.

"Sekarang memang ke arah itu Amrarawa, Jawa Barat sebagian, Cianjur-Bandung termasuk. ada medan agak berat di situ, jadi dioptimalkan yang sampai Cianjur, kemarin kan Bogor-Cianjur, itu dia, anggarannya kan terbatas, itu akan didesain yang lebih baik lagi," ujar Umiyatun.

Diungkapkannya, reaktivasi jalur-jalur KA peninggalan Belanda membutuhkan waktu lama. Lantaran perlu dilakukan studi terkait kelaikan tanah, hitungan ekonomis, penganggaran, hingga yang paling sulit melakukan pembebasan lahan.

"Daerah Jawa Barat banyak daerah-daerah patahan dan terowongan. Tahapannya kaji dulu, FS (feasibility study) lagi, baru detail engineering design (DED), terus pengadaan, termasuk pembebasan lahannya, baru kita bangun, itu kan kalau lahannya cepat bisa dibebaskan anggaran siap, kalau anggaran terbatas kan harus dicari yang mana dulu, bertahap," jelas Umiyatun.

Proyek reaktivasi KA eks Belanda, sambungnya, juga termasuk reaktivasi rel trem yang ada di Kota Surabaya yang saat ini tengah dilakukan pembersihan lahan (land clearing). "Aktivasi trem di Surabaya kan itu reaktivasi juga," pungkas Umiyatun. (idr/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed