Follow detikFinance
Kamis 12 Oct 2017, 08:12 WIB

Laporan dari Washington

Utang dan 4 Hal Ini Bisa Jadi Penyebab Krisis

Maikel Jefriando - detikFinance
Utang dan 4 Hal Ini Bisa Jadi Penyebab Krisis Foto: Maikel Jefriando
Washington - Ada lima kerentanan pasar keuangan global yang jadi fokus International Monetary Fund (IMF). Mulai dari utang, kondisi geopolitik serta China dianggap mampu mengantarkan pada krisis bila tidak ditangani dengan tepat.

Demikian diungkapkan oleh Financial Counsellor IMF, Tobias Adrian, dalam rangkaian annual meeting IMF-World Bank di Kantor Pusat IMF, Washington, Rabu (11/10/2017).

Pertama, kata Tobias, yaitu risiko pasar keuangan meningkat. Banyak investor memilih mencari tempat yang mampu menawarkan imbal hasil (yield) tinggi agar mampu mengeruk keuntungan yang lebih besar.

Tobias menyebutkan Ada sekitar US$ 2 triliun obligasi dengan yield 4%, lebih rendah dibandingkan sebelum krisis finansial global yang mencapsi US$ 16 triliun.

"Investor seperti keluar dari kebiasaan demi mengejar keuntungan, namun kondisi tak begitu bagus terlihat pada neraca peningkatan risiko kredit, jatuh tempo dan likuiditas," jelasnya.

Kedua, terjadi peningkatan utang pada negara-negara G20. Terutama pada sektor swasta, di mana rata-rata utangnya lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis keuangan. Ini tentunya menjadi beban berat, sekalipun pada negara-negara besar.

"Hal ini menimbulkan risiko lebih besar dari waktu ke waktu seiring kenaikan suku bunga yang tajam," ujarnya.

Tobias melanjutkan yang ketiga, yaitu peningkatan utang pemerintah di negara berkembang dan yang berpenghasilan rendah. IMF mencatat arus dana yang mengalir ke negara berkembang mencapai US$ 300 miliar pada 2017, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua tahun terakhir.

Walaupun ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, akan tetapi ketergantungan terhadap utang bisa menjadi sangat riskan. Apalagi bagi negara dengan ekonomi kecil.

"Ketergantungan terhadap utang luar negeri suatu saat bisa menjadi kerentanan," tegasnya.

Keempat adalah China. Negeri tirai bambu tersebut menyimpan risiko besar di pasar keuangan. Penyebabnya ialah kredit dengan jumlah yang besar dan tumbuh tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kelima, ada risiko geopolitik dan inflasi tidak terkendali serta suku bunga acuan yang secara mendadak naik tinggi.

Menurut Tobias, pengelolaan moneter menjadi fokus dari seluruh persoalan tersebut.

"Bank Sentral harus lebih halus dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter. Termasuk menyiapkan antisipasi bila terjadi gejolak," kata Tobias.

Di samping itu, pengawasan bank berkapasitas besar harus diperhatikan dengan sangat serius. Meskipun diberdayakan sebagai pendorong ekonomi, namun bank juga tetap harus menjaga kehati-hatian. (mkj/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed