Follow detikFinance
Jumat 13 Oct 2017, 15:36 WIB

Laporan dari Washington

Bos IMF Bicara Soal Ramalan Ekonomi Dunia, China Hingga Donald Trump

Maikel Jefriando - detikFinance
Bos IMF Bicara Soal Ramalan Ekonomi Dunia, China Hingga Donald Trump Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde (Foto: Maikel Jefriando-detikFinance)
Washington - Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde, bicara tentang banyak hal yang terjadi di dunia sekarang. Mulai dari ramalan pertumbuhan ekonomi dunia, China hingga berbagai kebijakan yang diambil oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

IMF baru saja merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, dari 3,5% menjadi 3,6%. Proyeksi yang optimistis di tengah ketidakpastian global.

"Apa yang kita lihat bahwa pemulihan itu sangat kuat," ungkap Lagarde pada sebuah seminar dalam rangkaian Annual Meeting IMF- World Bank di Washington, Kamis (12/10/2017) waktu setempat.

Pemulihan terjadi cukup cepat sejak terjadinya krisis finansial global pada 2007 lalu. Ini didorong oleh investasi, konsumsi dan perdagangan. Bila dibagi berdasarkan kelompok negara, maka ekonomi dunia tidak hanya ditopang oleh negara berkembang. Namun juga negara maju.

AS yang tahun ini ekonominya diproyeksi tumbuh 2,2% atau lebih tinggi dari realisasi 2016 yang sebesar 1,7%. Eropa dengan 2,1% (dari 1,8%), dan Jepang 1,5% (dari 1%).

"Tapi pemulihan sebetulnya belum selesai," tegasnya.

Tahun lalu, Lagarde menyatakan sebanyak 47 negara mengalami pertumbuhan negatif, ditambah dengan deretan negara yang masuk dalam kategori rapuh. Atas persoalan tersebut, beberapa negara bahkan sampai dilanda konflik sosial dan politik dan merugikan masyarakat umum.

Maka dari itu, menurut Lagarde, kondisi yang cukup baik ini harus disempurnakan dengan kebijakan jangka panjang. Sehingga bila terjadi gejolak pada satu negara, entah karena persoalan ekonomi atau geopolitik, imbas yang diterima oleh negara lain tidak terlalu besar.

"Ini waktu yang tepat untuk mengambil kebijakan yang berguna untuk masyarakat secara umum dan pemulihan bisa berlangsung secara berkelanjutan," papar Lagarde.

Ada beberapa kebijakan yang direkomendasikan oleh Lagarde. Di antaranya, kepastian berjalannya pemulihan. Seperti dari sisi moneter, ada kebijakan yang mendukung pemulihan secara keberlanjutan, sekaligus mengelola risiko yang bisa terjadi pada sektor keuangan.

Dari sisi fiskal, menurut Lagarde, sebuah negara harus dipastikan dalam kondisi neraca keuangan yang sehat. Belanja pemerintah harus bisa diarahkan kepada yang bersifat produktif, seperti infrastruktur, jaminan sosial, pendidikan dan akses wanita terhadap lapangan pekerjaan.

"Negara juga harus memanfaatkan situasi baik ini dengan menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)," terang Lagarde.

Lagarde menyadari, pemulihan juga penuh akan tantangan dari dalam negeri. Misalnya melindungi kemajuan reformasi peraturan keuangan, mengatasi perubahan iklim, memperbaiki sistem perdagangan global hingga dampak teknologi terhadap lapangan pekerjaan.

China

IMF mengubah proyeksi ekonomi China dari yang tadinya 6,7% menjadi 6,8%. Faktornya adalah kebijakan stimulus fiskal yang ditempuh oleh pemerintah China mulai memberikan dampak positif.

China mengubah arah ekonomi dari yang tadinya berbasis investasi dan ekspor menjadi konsumsi. Ini seiring dengan upaya memotong tren perlambatan ekonomi dari di atas 10% dan kemudian sampai di level 6% karena menurunnya perdagangan global.

Lagarde mengingatkan agar China lebih cepat untuk menyiapkan kebijakan antisipasi atas tingginya pertumbuhan kredit dalam beberapa waktu terakhir. Kemampuan pihak untuk melunasi utang jatuh tempo harus diperhatikan dengan seksama demi menghindari terjadinya gejolak pada pasar keuangan global.

"Reformasi SOEs dan terus mengimbangi kredit guna mengendalikan risiko finansial China sangat disambut baik oleh semua pihak," kata Lagarde.

Donald Trump

Kehadiran Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) membawa kebijakan besar soal perdagangan. Setelah keluar dari Trans-Pacific Partnership, Trump mengumumkan untuk mengkaji ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agreement/NAFTA). NAFTA melibatkan Meksiko dan Kanada.

Pertama, menurut Lagarde, dalam persoalan ini negosiasi pasti akan terus berlanjut. Masing-masing pihak akan mengambil posisi yang tepat sebagai solusi melalui berbagai ruang manuver yang tersedia.

Kedua, Lagarde menjelaskan, NAFTA sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu. Sehingga bukan berarti tidak boleh ada evaluasi dari negara yang terlibat. Menurutnya perlu mencatat hal-hal yang sudah dicapai dan juga meleset dari tujuan. Apalagi sistem perdagangan sekarang mengalami perubahan signifikan.

"Ya apakah kita 20 tahun lalu berkomunikasi dengan ponsel? menggunakan digital untuk berbagai aktivitas? Mungkin tidak. Jadi ketika ada negosiasi ini, maka silakan dilanjutkan," pungkasnya. (mkj/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed