"Impor penurunannya lebih dalam dibanding ekspor, untuk impor ini terjadi baik di migas maupun non migas, kalau YoY tumbuh 13,13%," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (16/10/2017).
Dia menjelaskan, nilai impor di September 2017 yang mencapai US$ 12,78 miliar ini dikarenakan lebih kepada faktor musiman lantaran di September 2016 juga terjadi hal yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan golongan, yang alami kenaikan tinggi adalah buah-buahan seperti pir, anggur, apel dari Tiongkok, sebaliknya yang alami penurunan itu mesin-mesin dan pesawat mekanik," jelas Suhariyanto.
Dengan nilai impor di September yang mencapai US$ 12,78 miliar, maka secara kumulatif dari Januari sampai September 2017 mencapai US$ 112,49 miliar atau naik 13,97% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Pangsa impor kita masih sama, 26% berasal dari Tiongkok, seperempat impor RI dari Tiongkok, disusul Jepang, dan Thailand, impor dari ASEA 20,61%. Enggak berubah karena ini 3 negara besar yang impor," tukas Suhariyanto. (hns/hns)











































