IMF: Ekspor Asia akan Anjlok

Pertumbuhan Melambat

IMF: Ekspor Asia akan Anjlok

- detikFinance
Kamis, 26 Mei 2005 11:16 WIB
Jakarta - Negara-negara Asia selama tahun 2005 akan menghadapi anjloknya ekspor yang dipicu melemahnya pertumbuhan ekonomi kawasan ini. IMF memrediksi ekspor Asia turun menjadi 12,8 persen pada 2005, dibandingkan 18,2 persen tahun lalu.Tahun lalu, IMF mencatat kawasan ini mengalami lonjakan ekspor yang dipicu tingginya pertumbuhan ekonomi hingga level tertingginya selama satu dekade. Tercatat pada tahun 2004, PDB Asia tumbuh 6,25 persen. Sementara pada tahun 2005 ini, PDB diprediksi hanya akan tumbuh 5,25 persen.IMF menyatakan, pada semester II 2005 ini, permintaan dari kawasan Asia akan turun tajam seiring melemahnya pertumbuhan ekonomi. Demikian laporan survei IMF kuartal I untuk Asia seperti dilansir AFP, Kamis (26/5/2005). Laporan itu juga mengingatkan para pembuat kebijakan di Asia perlu bersiap-siap menghadapi pertumbuhan yang melambat dengan harus menyiapkan kompensasi berupa stimulus makro ekonomi. Selain itu mereka juga harus bersiap-siap menghadapi peningkatan inflasi. "Hal tersebut memerlukan sejumlah kebijakan yang ketat," ujar IMF.IMF juga mengingatkan, para pembuat kebijakan harus tetap waspada, dan secara hati-hati mengumpulkan bukti-bukti sebelum memutuskan langkah apa yang akan diambil.IMF juga mengidentifikasi masalah lain yakni kenaikan harga minyak dan "penyesuaian yang tidak beraturan" dari mata uang serta suku bunga sebagai risiko penurunan yang juga membayangi Asia. Harga minyak tercatat kembali melonjak dan telah meningkat sekitar 20 persen dibandingkan posisi Desember 2004. Hal itu membuat pendapatan regional terpukul dan semakin menambah tekanan terhadap inflasi. IMF memrediksi, negara utama Asia seperti Cina dan India ditambah negara industri baru seperti Hong Kong, Singapura dan Taiwan plus negara kunci perekonomian Asia lainnya seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, diprediksi tumbuh 6,5 persen pada tahun ini. Sementara tahun lalu, negara-negara itu diprediksi tumbuh 7,5 persen.Surplus negara-negara tersebut diprediksi berkurang menjadi 2,75 persen PDB dibandingkan tahun lalu sebesar 3,25 persen PDB. Hal itu merefleksikan turunnya ekspor, sementara inflasi diprediksi masih tetap di level 3 persen. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads