Follow detikFinance
Selasa 17 Oct 2017, 17:30 WIB

Begini Kondisi Ekonomi Kreatif RI di 3 Tahun Jokowi-JK

Hendra Kusuma - detikFinance
Begini Kondisi Ekonomi Kreatif RI di 3 Tahun Jokowi-JK Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Sektor ekonomi kreatif terbukti menjadi sumber dan kekuatan ekonomi baru bagi Indonesia, apalagi di tengah melambatnya harga komoditas dan bahan mentah secara glonal, sektor ekonomi kreatif mampu memberikan sumbangan yang positif bagi perekonomian Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf saat acara 3 Tahun Capaian Jokowi-JK di Gedung Bina Graha Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Selasa (17/10/2017).

"Di masa depan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sumber daya alam mentah," kata Triawan.

Dia menyebutkan, ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 7,38% terhadap perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp 852,24 triliun. Tugas ekonomi kreatif adalah memberikan nilai tambah, sehingga dapat menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan berkontribusi besar pada perekonomian.

"Dari total kontribusi tersebut, subsektor kuliner, kriya dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif," tambah dia.

Dia melanjutkan, subsektor kuliner berkontribusi sebesar 41,69%, fashion sebesar 18,15%, kriya sebesar 15,70%. Tidak hanya itu, adapula empat sub sektor yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru yakni film, musik, art dan game (animasi).

Empat sub sektor ini tercatat mengalami pertumbuhan paling pesat yakni film dengan 10,28%, musik 7,26%, art/arsitektur 6,62%, dan game tumbuh sekitar 6,68%.

Menurut Triawan, pertumbuhan film di Indonesia terlihat dari banyaknya bioskop yang telah dibangun, setidaknya lebih dari 1.200 bioskop yang telah terbangun di beberapa kota.

Dengan banyaknya fasilitas bioskop, kata Triawan, juga mempengaruhi jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Salah satu contohnya film Laskar Pelangi dan Ada Apa Dengan Cinta 2, yang ternyata memberikan daya wisata di dua daerah tersebut.

"Selama 30 tahun lebih investasi pada bidang perfilman itu tertutup untuk investor asing, mereka sudah lebih maju karena itulah dibuka investasi ini untuk film untuk pusat investasi oleh pelaku luar negeri investor pemula investasinya yang sekarang," jelas dia.

Menurut Triawan, masih ada hambatan dan kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif, terutama terkendala oleh ekosistem bisnis dan investasinya.

"Kami bersama dengan BKPM dengan memformulasikan tawaran kepada para investor luar untuk berinvestasi di bidang bioskop dan tentunya juga diproduksi film saat ini FOX sedang berjalan, di antaranya film Wiro Sableng," tukas dia. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed