PT Inti Inginkan Privatisasi
Kamis, 26 Mei 2005 14:02 WIB
Jakarta - Banyak cara untuk meningkatkan kemampuan strategi bisnis. Salah satunya dengan privatisasi. PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) menginginkan privatisasi agar dapat bersaing. Keinginan salah satu industri strategis milik negara ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (26/5/2005). Rapat tersebut memang membahas sejumlah BUMN strategis.Dirut PT Inti John Welly menjelaskan, melihat struktur teknologi komunikasi sekarang, privatisasi di PT Inti harus diagendakan pada masa mendatang. Hal itu setelah melihat kelemahan dalam PT Inti yang tidak punya akses dengan teknologi."Gap teknologi yang sekarang sudah terlalu jauh. Kami menghendaki privatisasi dalam strategic investment," katanya.Dituturkan dia, kelemahan perusahaan plat merah ini hanya memiliki kemampuan pada telekomunikasi, mastering dan support. "Kemampuan itu malah masuk dalam low teknologi," ujar John.PT Inti sangat berbeda dengan BUMN strategis lainnya, di mana BUMN lainnya masih relevan masuk dalam BUMN strategis dan tidak perlu adanya privatisasi. Dalam rapat tersebut juga dibahas industri strategis milik pemerintah lainnya, seperti PT Krakatau Steel, PT Pindad, PT Dahana, PT Land Industry, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PTDI.Dikatakan Dirut PT Barata, kalau perusahaannya masih eksis dan sudah mempunyai kemampuan teknologi, serta masih relevan masuk dalam industri strategis di BUMN. PT Barata mampu membuat pabrik gula dan kelapa sawit, komplet dengan teknologi yang dimiliki sekarang.PT Land Industry yang bergerak dalam bidang elektronik nasional menjanjikan pada masa mendatang akan berada dalam bisnis yang pasarnya sangat besar. Makanya BUMN ini masih masuk dalam industri strategis.
(mar/)











































