ADB: Korupsi Jadi Hambatan Utama Investasi di Indonesia
Kamis, 26 Mei 2005 16:19 WIB
Jakarta -
Asian Development Bank (ADB) mengkategorikan 3 hal utama yang menjadi hambatan bagi peningkatan investasi di Indonesia. Hambatan itu adalah ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan ekonomi dan regulasi serta masalah korupsi.Penilaian ADB ini muncul setelah dilakukan penelitian terhadap 700 perusahaan menengah dan besar di 11 provinsi. Lembaga asing memang kerap melakukan penelitian ekonomi di Indonesia.Peneliti ekonomi ADB Guntur Sugiyarto dalam konferensi persnya di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menyatakan, hasil survei iklim investasi di Indonesia menyebutkan korupsi di level nasional mencapai 4,6 persen dari total omset perusahaan. "Di level kota, korupsi sebesar 4,8 persen dari total omset," ungkapnya.Selain persoalan di atas, masih ada juga masalah lainnya. Masalah itu seperti ketenagakerjaan, perpajakan, keuangan dan infrastruktur. Masalah lain yang tak kalah pentingnya adalah dampak negatif desentralisasi. Pelaksanaan desentralisasi telah memperburuk iklim investasi dan makin menambah ketidakpastian kebijakan ekonomi.Jika dilihat dari perbandingan besarnya usaha, maka hambatan yang paling besar dialami olehperusahaan besar, asing dan eksportir. Sedangkan berdasar wilayahnya, menunjukkan perusahaan di Jakarta mengalami masalah infrastruktur dan korupsi yang lebih besar. Tapi di luar Jakarta, korupsi lebih sedikit tetapi masih menghadapi masalah birokrasi.Pajak di Indonesia juga termasuk tinggi, sementara biaya dan akses keuangan semakin sulit menyebabkan banyak perusahaan lebih mengandalkan pembiayaan sendiri daripada pinjam bank. Peraturan ketenagakerjaan tentang memperkerjakan dan memberhentikan pekerja serta upah minimum juga masih memberatkan pengusaha.Direktur Perwakilan ADB Indonesia David Green menyatakan, akhir-akhir ini Indonesia stabil dalam makro ekonomi. "Tapi belum ada peningkatan investasi. Malah sempat tidak pernah ada investasi. Investasi lalu kembali namun masalahnya masih dalam skala small boom," katanya.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































