Jepang Pertimbangkan Salurkan Bantuan Program ke RI
Kamis, 26 Mei 2005 23:15 WIB
Jakarta - Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan penyaluran bantuan program (goverment policy loans ke-2) untuk Indonesia pada 2006 mendatang. Bila bantuan ini turun maka akan sangat membantu APBN.Demikian disampaikan Menkeu Jusuf Anwar tentang hasil kunjungannya ke Jepang, di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2005)."Tahun ini sudah berikan US$ 100 juta co-financing dengan Bank Dunia. Kita menanyakan untuk 2006. Menkeu Jepang menyatakan akan mempertimbangkan," kata Menkeu Jusuf Anwar.Dalam kesempatan pertemuan tersebut, Menkeu Jusuf Anwar juga menyatakan terima kasih atas bantuan pemerintah Jepang terutama bantuan ke Aceh dan dukungan Jepang ketika Indonesia berjuang ke luar dari NCCTs.Selain bertemu dengan Menkeu Jepang, Jusuf Anwar juga bertemu dengan Gubernur JBIC. Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai pelaksanaan sembilan Yen Loans Project yang kebanyakan merupakan proyek infrastruktur termasuk perbaikan Bengawan Solo.Saat ditanya wartawan, mengenai berapa dari nilai sembilan proyek itu, Menkeu tidak berkomentar. "Nanti lihat saja. Kita membahas juga soal kereta api. Mereka juga menanyakan efektivitas pinjaman. Depkeu sudah menyiapkan hal-hal teknis yang berkaitan dengan efektivitas pinjaman itu," tandasnya.Pengusaha Jepang, lanjut Menkeu Jusuf Anwar, juga mempertanyakan sikap pemerintah terhadap proyek-proyek swasta apakah akan memberikan jaminan atau tidak. Menkeu menjelaskan bahwa masa blanked quarantee secara menyeluruh untuk swasta sudah lewat. Kalau pemerintah Indonesia memberikan blanked quarantee akan ditertawakan oleh dunia internasional. "Blanked quarantee banyak ekses buruknya, yang ada sekarang adalah partial risk quarantee. Itu pun risiko yang nonkomersial, kalau yang komersial mereka urus sendiri," ujarnya.Dalam kesempatan kunjungan kerja ke Jepang, Jusuf Anwar juga berbicara di hadapan sekitar 500 orang yang terdiri dari pengamat, analis dan investor mengenai The Future of Asia. Menkeu menyoroti ASEAN+3. "Jadi ada 13 negara yang merupakan wakil 30 persen penduduk dunia. Kalau ditambah India, Korea, Cina dan Jepang itu sudah merupakan representasi 50 persen penduduk dunia. Itu merupakan suatu potensi yang besar. Kerja sama di antara negara regional ini harus diberdayakan terutama dalam menghadapi globalisasi," tegasnya.
(san/)











































