Follow detikFinance
Jumat 20 Oct 2017, 15:48 WIB

Truk Besar Dilarang Masuk Tol, Pengusaha: Mobil Pribadi Dikurangi

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Truk Besar Dilarang Masuk Tol, Pengusaha: Mobil Pribadi Dikurangi Foto: Agung Pambudhy
Bekasi - Kementerian Perhubungan lewat Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menggelar uji coba larangan masuk tol Jakarta-Cikampek bagi truk besar golongan IV dan V sejak Senin, (16/10) lalu. Waktu pembatasan truk dilakukan dari pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.

Kendaraan truk besar yang membawa muatan banyak selama ini dirasa menjadi penyebab kemacetan lantaran laju kendaraannya yang tak bisa cepat membuat laju kendaraan yang melintas di tol menjadi lambat.

Penerapan kebijakan ini ternyata memberi pengaruh positif kepada laju kendaraan yang melintasi Tol Jakarta-Cikampek arah Jakarta. Kepala BPTJ, Bambang Prihartono mengatakan, kecepatan kendaraan yang melintas pada jam sibuk itu secara rata-rata meningkat hingga ke angka 15%.

"Kita sudah dengar evaluasinya sama-sama. Pemilik kawasan, Asosiasi truk, Jasa Marga, Korlantas, Asosiasi truk, dan lain-lain, prinsipnya mereka sepakat kebijakan ini tetap dilanjutkan," katanya saat ditemui di Kawasan Industri MM2100, Cikarang, Jumat (20/10/2017).

Atas dasar dampak yang positif ini, kebijakan ini bakal terus dilakukan sembari menunggu Peraturan Menteri Perhubungan untuk menjadikannya aturan permanen. Seperti diketahui, uji coba saat ini diatur lewat Keputusan Menteri Perhubungan tentang Pengaturan Perjalanan Angkutan Barang dan Keputusan Kepala BPTJ tentang Uji coba Pengaturan Perjalanan Angkutan Barang.

Dari data yang dikumpulkan, kecepatan rata-rata kendaraan tiap golongan di ruas Tol Jakarta-Cikampek meningkat. Golongan I misalnya, kecepatannya meningkat dari 68 km/jam menjadi 78 km/jam saat uji coba. Begitu pula untuk kendaraan golongan II dan III, yang masing-masing kecepatannya meningkat 9% dan 13% menjadi 49 dan 45 km/jam setelah adanya kebijakan pelarangan truk masuk tol dari jam 06.00 hingga 09.00 WIB.

"Kita sepakat kebijakan ini punya dampak positif. Sekarang kecepatan meningkat dari rata-rata 20 sampai 30 km per jam sekarang bisa 50 sampai 60 km per jam. Bahkan kecepatan meningkat 15%," tambahnya.

Respons pengusaha

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Kyatmaja Lookman mengatakan larangan masuk truk besar tak banyak membantu pengurangan kemacetan yang terjadi, lantaran pertumbuhan kendaraan golongan I, yaitu mobil pribadi, pick Up/truk kecil, terbukti terus meningkat.

Sementara jumlah kendaraan golongan II hingga V di tol sendiri hanya sekitar 12%. Bahkan untuk kendaraan golongan IV dan V hanya sekitar 3%.

"Nah golongan I ini, perusahaan mobil kan produksi terus ini. Ini kalau enggak dikurangi, jalan berapapun enggak akan cukup. Sedangkan target pemerintah pun bikin jalan tol (elavated) cuma berapa km ini. Kalau mobil sama sepeda motor itu, kemarin kita hitung-hitung, 12 ribu km panjangnya kalau dikonversi ke 1 jalur jalan. Jadi kalau pemerintah cuma bangun jalan di bawah itu panjangnya, ya enggak ada artinya," tutur dia.

Menurutnya, pemerintah harus mencari strategi lain untuk mengatasi kemacetan secara berkelanjutan. Salah satu yang dia usulkan adalah membatasi produksi kendaraan mobil hingga menaikkan tarif tol untuk kendaraan golongan I. Dia bilang, dengan rasio kendaraan golongan I yang jauh lebih banyak juga turut menambah padatnya jalan.

Pemerintah sendiri akan kembali melanjutkan uji coba ini sampai nantinya akan diterapkan secara permanen lewat Peraturan Menteri Perhubungan. Selain itu, minggu depan, kebijakan serupa juga akan dilakukan untuk arah yang berlawanan, yakni dari arah Jakarta menuju ke Cikampek. Namun sebelum diterapkan, akan dilakukan sosialisasi terlebih dahulu selama satu minggu. (eds/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed