Follow detikFinance
Minggu 22 Oct 2017, 17:20 WIB

Bisakah Pemerintah Bikin Harga Beras Stabil di Pasar Becek Pakai HET?

Muhammad Idris - detikFinance
Bisakah Pemerintah Bikin Harga Beras Stabil di Pasar Becek Pakai HET? Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pemerintah lewat Kementerian Perdagangan (Kemendag), telah memberlakukan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada beras. Diaturnya komoditas pangan paling pokok itu dilakukan untuk mencegah adanya praktik spekulan.

Jufri, salah seorang pedagang beras di Pasar Klender, Jakarta Timur, mengatakan aturan HET beras sulit dilakukan hingga ke pasar tradisional. Pedagang tak mungkin menjual beras sesuai HET jika harga kulakan di Pasar Induk Cipinang sudah tinggi.

"Enggak ngaruh kalau di sini yang namanya harga acuan. Ya saya beli beras saja di Pasar Induk ada yang Rp 600.000 satu karung (50 kg). Perkilonya sudah mahal (Rp 12.000/kg). Sementara saya jual literan, enggak bisa masuk (HET)," ungkap Jufri ditemui di kiosnya, Minggu (22/10/2017).

Selain itu, kata dia, harga beras juga bermacam-macam. Dirinya pun juga menjual dengan harga beras di bawah HET. Namun harga patokan tersebut sulit dipraktikkan untuk semua beras. Itu pun, harganya naik turun mengikuti harga di pasar induk.

"Kita enggak pakailah itu namanya HET. Kalau barang dapatnya mahal, masa saya jual sesuai harganya pemerintah. Tahunya di induk murah ya kita ikut murah, kalau di Pasar Induk bisa sesuai HET, ya kita beda dikit wajarlah. Namanya juga pedagang ngecer," tutur Jufri.

Menurutnya, harga beras sendiri relatif stabil, meski ada kenaikan di kisaran Rp 200-300/liter. Beras IR 64 dijualnya seharga Rp 9.000/liter. Kemudian beras Bandung Rp 10.000/liter, dan Pandan Wangi Rp 12.000/liter.

Sementara itu, pedagang beras lainnya, Mai mengungkapkan hal yang sama. Harga beras menurutnya sangat bergantung pada pasokan, ketimbang mengatur harga, lebih baik pemerintah memastikan ketersediaan beras tetap aman.

"Saya sendiri enggak tahu harga beras HET. Orang keluar rumah pagi belanja, pulang sore, enggak tahu informasi di televisi. Jualan beras ya ikuti di Induk. Sekarang naik tapi enggak banyak," tandas Mai.

Sebagai informasi, pemerintah telah menetapkan HET untuk beras dengan pembagian 3 kategori yakni beras premium dengan harga jual paling mahal di daerah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan paling mahal medium Rp 9.450/kg, dan premium Rp 12.800/kg.

Sementara untuk daerah lainnya yang bukan penghasil beras utama antara lain Sumatera non Sumsel yakni medium Rp 9.950/kg, premium Rp 13.300/kg, Bali dan NTB medium Rp 9.450/kg, Rp premium Rp 12.800/kg, NTT medium Rp 9.950/kg dan premium Rp 13.300/kg, Sulawesi non Sulsel medium Rp 9.450/kg dan premium Rp 12.800/kg.

Kemudian Kalimantan untuk beras kualitas medium Rp 9.950/kg dan premium Rp 13.300/kg, serta Maluku dan Papua medium Rp 10.250/kg dan premium Rp 13.600/kg. (idr/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed