Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Okt 2017 12:22 WIB

Kenalkan, Ini Todd Christopher Sang Penata Rambut Berharta Triliunan

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Dok. Forbes Foto: Dok. Forbes
Jakarta - Tak ada yang tidak mungkin bagi seseorang untuk mendapatkan banyak harta ketika mau berusaha. Sama halnya bagi seorang Todd Christopher. Tak terbayang olehnya setelah di-DO atau 'dropout' dari bangku SMA, kini ia menjadi miliuner terkenal.

Todd Christopher masuk dalam jajaran Orang-orang terkaya di AS yang mengembangkan bisnisnya sendiri dengan mendirikan sebuah perusahaan perawatan rambut. Todd Christopher kini berharta US$ 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,35 triliun.

Perusahaan perawatan rambut alias hair care ini Ia dirikan pada tahun 1987 dengan nama Vogue International. 'Brand' ini sekarang sangat terkenal di kalangan fashionista seluruh dunia.

Kakek buyut Todd Christopher adalah seorang penata rambut di sebuah salon. Begitu juga kakeknya, ayah dan saudara laki-lakinya, beserta enam sepupunya dan tujuh pamannya.

Masa depannya sendiri nampaknya tak terelakkan sehingga dia keluar dari bangku SMA pada usia 17 tahun untuk mulai bekerja di salon milik sepupunya.

"Saya sangat ingin sekali dapat memulai sendiri," kata Christopher.

"Tapi saya sangat naif. Saya pergi ke sekolah dengan pukulan keras selama 20 tahun sebelum saya benar-benar merasakan kesuksesan yang berarti," demikian disampaikan Christopher dalam sebuah perbincangannya dengan Angel Au-Yeung, Kontributor untuk Majalah Forbes yang dilansir detikFinance, Senin (23/10/2017).


Tak hanya pandai dalam menata dan memotong rambut, Christopher bahkan kini berhasil 'memotong' jalan ke daftar orang terkaya AS dalam list The Forbes 400 dengan kekayaan bersih sebesar US$ 2,1 miliar. Dia mulai menjual produk perawatan rambut di pertengahan tahun 80-an dari bagasi mobilnya dan mengembangkannya ke Vogue International, sebuah perusahaan kecantikan di mana telah merilis merek seperti FX Styling, Proganix, Maui Moisture dan produk 'legendarisnya' yang memakai botol monokromatik dari OGX.

Dia menjual 49% saham minoritas ke perusahaan ekuitas swasta The Carlyle Group pada tahun 2014. Dua tahun kemudian pada bulan Juli 2016, Christopher dan Carlyle menjual seluruh perusahaannya ke Johnson & Johnson seharga US$ 3,3 miliar. Tidak buruk bagi anak putus sekolah, hanya satu dari dua orang yang ada di list The Forbes 400.

Namun di balik kesuksesannya, dahulu Christopher menabung cukup banyak uang untuk membuka salon pertamanya di usia 22, saat sebagian besar dari 400 rekannya dan seluruh Amerika lulus kuliah.

"Sedikit kekurangan dana. Di tahun pertama, kami kesulitan membayar sewa. Saya tidur di salon saya untuk menghemat uang," ungkapnya.

Ia pun dihadapi dengan banyaknya penggusuran, di salonnya sendiri. Ia menjadi semakin putus asa. Akhirnya Christopher datang dengan sebuah skema untuk menghindari penggusuran, setidaknya sesaat.

Dia menjual produk rambut profesional miliknya dari Redken ke toko obat di seberang jalan.

"Itulah yang membuka mata saya dan memberi saya visi untuk memulai Vogue International," katanya.

Christopher mengamati bahwa sampai saat itu, hanya ada beberapa pilihan shampo berkualitas tinggi yang bisa dibeli konsumen sehari-hari di toko obat. Tapi ada banyak yang dipasarkan ke penata rambut profesional. Christopher yakin konsumen akan keluar untuk produk yang lebih berharga tersebut.

Namun, ini berarti menghadapi perusahaan terbesar dan paling dominan di industri kecantikan. "Pasar massal adalah kategori yang lebih sulit untuk masuk karena pesaing yang Anda hadapi adalah L'Oreals, the B & G's," kata Christopher.

"Tapi mereka juga sedikit rentan. Mereka begitu besar, mereka tidak gesit dan cukup cepat untuk membawa produk ke pasar," terangnya.

Dari pendirian Vogue International pada tahun 1987 sampai pertengahan tahun 2000an, Christopher merilis setidaknya selusin merek perawatan rambut, semuanya dengan sedikit kesuksesan.

"Beberapa di antaranya hanya kerugian biasa, titik," katanya.

Setelah dua dekade percobaan trial and error, akhirnya Christopher merilis OGX pada tahun 2006. Tanpa anggaran multi-juta dolar atau akses ke model terkenal, Christopher berfokus pada momen penjualannya sendiri. Itu berarti menarik pembeli di rak, saat mereka membuat keputusan sepersekian detik untuk membeli.

"Botol kami perlu berbicara dan menarik perhatian konsumen kami."

Botol OGX memang terlihat menarik. Berwarna tebal dengan warna matte. Bagian depan memiliki teks yang juga menarik hingga memenuhi botol. Ia pun menggambarkan ramuannya dalam cerita seperti naratif.


"Tanggapan pertama dari pengecer kami adalah botol tersebut berbentuk ganjil. Ada apa dengan semua tulisan ini di depan? Tidak ada yang membaca semua itu, bisakah Anda membersihkan ini?" tuturnya.

Namun, Christopher mempertahankan visinya. Ini terbayar, konsumen tertarik dan Ia pun dapat jutaan dolar dengan caranya sendiri.

Memang tidak semua 'lembut dan halus' untuk perjalanan Christopher. Pada tahun 2011 ketika OGX masih disebut Organix, Vogue International digugat oleh Center for Environmental Health, sebuah lembaga nirlaba anti-kimia yang berbasis di California.

Mereka mengklaim bahwa nama Organix menyesatkan karena mengemukakan produknya organik saat mereka tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan California untuk menjamin label semacam itu.

Sampai kini Christopher tetap low profile. Dia merenungkan langkah bisnis berikutnya saat dia menghabiskan waktu bersama keluarganya di Clearwater. Ia pun memulai dengan menyusun investasi untuk mentoring wirausahawan muda yang baru memulai bisnis rambut dan kecantikan.

Ia memiliki satu nasihat yang diteruskannya kepada orang-orang lain. "Saya menyesal tidak mendapatkan pendidikan formal, tapi apa yang saya pelajari dari itu? Jangan takut mempekerjakan seseorang yang lebih pintar dari dirimu sendiri," tutupnya.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com