Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara saat konferensi pers APBN 2018 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/10/2017).
Suahasil mengatakan, arah perekonomian global di tahun depan diproyeksikan membaik dari yang diperkirakan sebelumnya. Seperti yang dilaporkan International Monetary Fund (IMF) dalam pertemuan IMF-World Bank di Washington DC, Amerika Serikat (AS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan, pada 2017 perekonomian dunia akan tumbuh 3,6% naik dari tahun sebelumnya, dan di tahun depan diproyeksikan kembali naik ke level 3,8%. Hal ini, kata Suahasil menjadi positif bagi negara berkembang seperti Indonesia.
"Tentu ada risiko yang perlu diwaspadai yaitu Tiongkok yang masih melakukan rebalancing, lalu normalisasi moneter di AS, proteksionisme di Eropa," jelas dia.
Pemerintah, dalam APBN 2018 telah menetapkan pertumbuhan ekonomi di level 5,4%, tingkat inflasi sebesar 3,5%, nilai tukar Rp 13.400 per US$, tingkat bunga SPN 3 bulan sebesar 5,2%, ICP sebesar US$ 48 per barel, lifting minyak 800 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi 1,2 juta barel per hari setara minyak.
Untuk inflasi, lanjut Suhasil, pemerintah akan terus menjaga tingkat inflasi di level rendah dan terkendali. Sedangkan untuk nilai tukar akan terus memantau perkembangan ekonomi global yang memiliki dampak kepada perekonomian nasional.
"Kita memiliki perbaikan peringkat, sekarang sudah komplit lembaga pemeringkat, tapi kita tetap memperhatikan risiko dari global, seperti The FED dan pengurangan balanced, lalu ada beberapa termasuk rebalancing dari perekonomian China, lalu Korea Utara, lalu middle east dan seterusnya," tukas dia. (mkj/mkj)











































