Tak Hanya Indonesia, AS dan Inggris pun Dihantam Lesunya Ritel

Erwin Dariyanto - detikFinance
Jumat, 27 Okt 2017 15:05 WIB
Foto: Danang Sugito
Jakarta - Lesunya perdagangan ritel rupanya tak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan Amerika dan Inggris pun saat ini mengalami lesunya perdagangan ritel. Survei Confederation of British Industry's (CBI) mencatat penjualan ritel di Inggris mengalami penurunan tajam sejak negara itu mengalami resesi pada 2009 lalu.

Menurut survei CBI, hanya 15% dari total toko ritel di Inggris yang melaporkan angka penjualannya naik. Sementara 50% lainnya angka penjualan turun. Ini adalah angka terburuk sejak krisis melanda Inggris pada 2009 lalu.

CBI mensurvei 106 perusahaan, 49 di antaranya adalah perusahaan ritel. Kepala Ekonomi CBI Rain Newton-Smith mengatakan pada bulan Oktober ini penjualan ritel di Inggris mengalami penurunan paling tajam. Warga Inggris tengah mengerem belanja karena tingginya biaya hidup dan inflasi.

Menurut Rain, perekonomian Inggris kian memburuk setelah menyatakan keluar dari Uni Eropa (Brexit) 2015 lalu. "Peritel benar-benar merasakan tingginya inflasi," kata Rain seperti dikutip dari laman CBI, Jumat (27/10/2017).

"Ini adalah saat yang kritis bagi sektor ritel yang mempekerjakan 3 juta orang di Inggris," tambah dia.

Kay Neufeld, Ekonom dari Cebr Consultancy mengatakan bahwa dalam lima atau enam bulan terakhir ini, warga Inggris tengah mengurangi belanja keluarga mereka. Ini menandakan bahwa daya beli masyarakat Inggris saat ini tengah turun.

Menurut Neufeld, di Inggris hanya London yang warganya mengalami kenaikan pendapatan lebih tinggi yakni 2,4%. Namun di kota lainnya warga tak mengalami kenaikan pendapatan. Perekonomian masyarakat Inggris pun kian tak mampu mengejar inflasi yang mencapai 3%.

Akibat warga mengerem belanja, sejumlah perusahaan ritel pun mengalami penurunan keuntungan. Debenhams misalnya, pada Kamis kemarin melaporkan, di tengah ketidakpastian penjualan tingkat keuntungan mereka pun turun hingga 44%.

Debenhams, sang Ratu Ritel dari Inggris itu pun harus merelakan dua tokonya ditutup. Dua toko Debenhams yang ditutup itu berlokasi di Eltham, London Selatan, dan Farnborough, Hampshire.

Di saat hampir bersamaan di Amerika Serikat juga terjadi kelesuan perdagangan ritel. Bahkan Hudson's Bay Co (HBC) raksasa ritel Amerika harus menjual gedung Lord and Taylor yang sudah seabad lebih dia kelola.


HBC yang selama ini dikenal memasarkan produk fashion ternama di dunia seperti Luis Vuitton, Gucci, Prada, Armani, Nike hingga Chanel harus memangkas jumlah outletnya. Jika selama ini HBC memajang dagangan di area seluas 650 ribu kaki persegi, mulai Januari 2018 nanti mereka hanya memiliki oulet 150 ribu kaki persegi. Itu pun dia harus menyewa gedung Lord and Taylor yang sudah dijual ke WeWork Cos.

Pada April lalu Polo Ralph Lauren juga menutup gerai terbesarnya di Fifth Avenue and 55th Street, Manhattan, Amerika Serikat. Sebelumnya sejumlah merek ternama yakni Kenneth Cole, Juicy Couture, dan H&M juga mengurangi gerainya di Fifth Avenue.

(erd/ang)