Kemendag Sidak Toko HP di Roxy, Ada Apa?

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 30 Okt 2017 12:57 WIB
Foto: Grandyos Zafna.
Jakarta - Susasana tak biasanya menyelimuti pusat perdagangan elektronik dan handphone di ITC Roxy Mas, Jakarta Barat. Pukul 10.30 WIB, Senin (30/10/2017), para tenant yang rata-rata baru membuka tokonya tersebut dikagetkan dengan kedatangan romobongan dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Tim dari Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Tata Niaga Kemendag yang dikomandoi Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Wahyu Widayat, bergerak dari satu toko ke toko yang lain. Puluhan awak media yang mengikutinya membuat rombongan sidak menarik perhatian pedagang dan pengunjung ITC Roxy.

Tujuan sidak hari ini untuk memastikan apakah para pedagang handphone di pusat belanja itu sudah memenuhi syarat perlindungan konsumen, yang meliputi nomor pendaftaran produk, kartu garansi, dan label berbahasa Indonesia.

Kemendag Sidak Toko HP di Roxy, Ada Apa?Foto: Muhammad Idris


Tiba di toko bernama Go Selular, Wahyu memberondong pedagang yang berjaga dengan bertanya soal asal barang dan nama distributor atau importir.

"Ini barangnya darimana? Siapa nama importir atau distributornya? Saat transaksi (beli) ada enggak nomor pendaftarannya?" Tanya Wahyu dengan nada menyelidik.

"Saya hanya menjual saja Pak. Dari sananya sudah begitu," jawab pedagang yang bernama Eko tersebut.

Kemendag Sidak Toko HP di Roxy, Ada Apa?Foto: Muhammad Idris


Tak puas dengan respons pedagang, Wahyu mencecar dengan pertanyaan lain terkait syarat yang harus dipenuhi untuk handphone sebelum dijual di pasaran.

"Walaupun cuma dipajang, harus ada kartu garansi, manual label Bahasa Indonesia, jangan kosong kayak begini. Lain kali kalau petugas kami datang ke sini, jangan salahkan kami. Anda sebagai penjual harus memenuhi syarat," tandas Wahyu.

Dia kemudian melanjutkan sidak ke lantai 1 dengan menggunakan eskalator. Satu toko lagi ditemuinya dengan acak yakni Toko Neocom Celluler. Pertanyaan yang ditujukan ke pedagang berikutnya tak jauh berbeda.

"Ambil barang darimana?" tanya Wahyu ke salah seorang penjual gadget wanita berusia paruh baya.

"Ini dari beli online Pak, dari internet," jawab pedagang.

"Kalau ditanya handphone kemudian enggak sesuai, importirnya Ibu tidak tahu, nanti Ibu sendiri yang kena. Harus bisa jelaskan barangnya dari importir A apa dari importir B. Kalau itu bisa jelaskan, Ibu enggak ada masalah. Harus ada label Bahasa Indonesia, nomor registrasi, dan kartu garansi minimal mencantumkan 6 lokasi service center. Kan enggak semua orang tahu Bahasa China," ucap Wahyu.

Sang pedagang kemudian mengakui dirinya memang belum tahu syarat yang harus dipenuhi terkait produk yang dijualnya.

"Kalau Ibu enggak tahu importirnya, Ibu yang kena nanti," ucap Wahyu sembari berlalu untuk sidak ke toko lainnya. (idr/wdl)